Tampilkan postingan dengan label Wisata Domestik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Domestik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

Danau Toba

Danau Toba yang memukau ini memiliki panjang 100 km dan lebar 30 km dengan kedalaman kurang lebih 450 meter, terletak di ketinggian 906 dpl. Bukan hanya karena danaunya, tapi pulau Samosir yang ada di atasnya. Selain itu masih ada dua danau kecil lainnya yang ada di Pulau Samosir: Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Hebatnya, menurut cerita rakyat setempat, ada kanal yang menghubungkan Danau Toba dengan Danau Sidihoni.





Pulau Samosir adalah sebuah pulau vulkanik di tengah Danau Toba di provinsi Sumatra Utara. Sebuah pulau dalam pulau dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut menjadikan pulau ini menjadi sebuah pulau yang menarik perhatian para turis.

Tuktuk adalah pusat konsentrasi turis di Pulau Samosir. Dari Parapat, Tuktuk dapat dihubungkan dengan feri penyeberangan. Selain perhubungan air, Pulau Samosir juga dapat dicapai lewat jalan darat melalui Pangururan yang menjadi tempat di mana Pulau Samosir dan Pulau Sumatera berhubungan.


Pulau Samosir sendiri terletak dalam wilayah Kabupaten Samosir yang baru dimekarkan pada tahun 2003 dari bekas Kabupaten Toba-Samosir.






Danau Sidihoni terletak di Kecamatan Pangururan, Pulau Samosir. Kalau Pulau Samosir dikatakan sebagai "pulau di atas pulau", Danau Sidihoni yang berada di Pulau Samosir ini bisa dikatakan sebagai "danau di atas danau" (di atas Danau Toba). Air danau ini sering berubah warnanya, dan oleh penduduk setempat perubahan warna ini dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia.

Danau Sidihoni berjarak 8 kilometer dari Pangururan ini cukup indah. Pemandangan di sekitar danau bisa dipantulkan oleh air danau. Dikelilingi oleh bukit landai berwarna hijau muda dan deretan pohon pinus, semakin menambah keindahan. Sayang, danau berair jernih ini belum dikelola dengan baik.


Sebagian besar penduduk di sekitar danau masih memanfaatkan airnya untuk fasilitas "mandi cuci kakus" (MCK). Terbatasnya sarana prasarana transportasi juga membuat obyek wisata ini jarang mendapat kunjungan wisatawan.




Danau Aek Natonang terletak di Desa Tanjungan, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Kalau Pulau Samosir dikatakan sebagai "pulau di atas pulau", Danau Aek Natonang yang berada di Pulau Samosir ini bisa dikatakan sebagai "danau di atas danau" (di atas Danau Toba).

Aksesibilitas ke danau seluas 105 hektar ini juga kurang baik. Ditambah minimnya sarana prasarana pendukung, membuat Danau Aek Natonang tidak mendapat kunjungan wisatawan dan direncanakan sebagai areal Hutan Wisata.



Gunung Toba adalah gunung api raksasa yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu menyisakan sebuah danau yaitu Danau Toba, Sumatera Utara, Indonesia sebagai kaldera terbesar di dunia.
Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.


Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.


Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.


Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.


Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.


Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 juta tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.

Letusan pertama terjadi sekitar 840 juta tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 juta tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.

Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.


Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Pakar Geologi dari Monash University bernama Profesor Ray Cas mengatakan kalau Gunung Toba masih akan meletus dan letusannya akan maha dashyat. Toba, terakhir kali meletus sekitar 73 ribu tahun silam. Letusannya amat luar biasa sehingga mengubah iklim dunia saat itu.

Letusan Gunung Toba, menurut sejarah, merupakan letusan terbesar di dunia selama dua juta tahun terakhir. Gunung itu melontarkan sekitar 3.000 kilometer kubik material perut bumi, termasuk gas vulkanis dan asam sulfur ke langit. Gas dan asam sulfur menyelubungi lapisan stratosfer di atmosfer bumi selama 6 tahunan. Adapun material gunung terlempar sampai ke kawasan Greenland di utara bumi. Letusan Toba dapat disamakan dengan 2000 kali letusan Gunung Helena atau 20000 kali letusan bom atom Hiroshima.


Selubung material dan gas dari gunung itu membuat temperatur muka bumi menurun antara 3 sampai 5 derajat celsius. Dunia pun mengalami musim dingin vulkanik yang sama seperti zaman es. "Itu adalah masa-masa yang sangat berat dan menantang," kata Will Harcourt-Smith, palentolog dari Museum Sejarah Alam Amerika di New York.


Sebuah teori dari Stanley H. Ambrose dari Universitas Illinois di Urbana-Champaign Amerika Serikat, menyatakan bahwa populasi manusia yang hidup saat ini berasal dari antara 1.000 sampai 10.000 jiwa manusia yang bertahan hidup dari letusan gunung Toba itu.

Bagaimana jadinya bumi ini ketika Gunung Toba yang sedang tertidur itu meletus??

Spoiler for Foto Satelit:



http://nugum.blogspot.com/


Survey Hotel Terbaik Di Indonesia



Geographic Traveler menggelar survey hotel terbaik di Indonesia yang berlangsung secara online dalam kurun waktu sebulan terakhir. Hasilnya :


HOTEL TERFAVORIT

1. Amanjiwo (Magelang) Nilai 4.23
2. Hotel Majapahit (Surabaya) Nilai 4.20
3. Borobudur Hotel (Jakarta) Nilai 4.18

KAMAR TERBAIK

1. Amanjiwo (Magelang) Nilai 4.50
2. Shangri-La (Jakarta) Nilai 4.29
3. Borobudur Hotel (Jakarta) Nilai 4.22

KEAMANAN DAN KESELAMATAN TERBAIK

1. Borobudur Hotel (Jakarta) Nilai 4.33
2. Tugu Malang Hotel (Malang) Nilai 4.29
3. Hotel Majapahit (Surabaya) Nilai 4.29

ARSITEKTUR DAN PEMANDANGAN TERBAIK

1. Hotel Majapahit (Surabaya) Nilai 4.70
2. Amanjiwo (magelang) Nilai 4.65
3. Borobudur Hotel (Jakarta) Nilai 4.48

KERAMAHAN SOSIAL DAN LINGKUNGAN

1. Amanjiwo (Magelang) Nilai 4.82
2. Santika Hotel (Yogyakarta) Nilai 4.60
3. Majapahit Hotel (Surabaya) Nilai 4.50

KEPUASAN DIBANDING HARGANYA

1. Amanjiwo (Magelang) Nilai 4.82
2. Santika Hotel (Yogyakarta) Nilai 4.60
3. Majapahit Hotel (Surabaya) Nilai 4.50

Survey melibatkan 500 orang partisipan (konsumen), dengan rentang usia terbesar antara 25-29 tahun (34 %), disusul usia 30-34 tahun (24,1%).

http://nugum.blogspot.com/2011/06/hotel-terbaik-di-indonesia.html


Minggu, 28 November 2010

Candi Di Yogyakarta

CANDI adalah bangunan lawas yang mudah ditemukan di Yogyakarta. Kebanyakan candi yang ditemukan di Yogyakarta dan kota di sekitarnya dibangun pada abad ke-8 dan ke-9. Kemudian dilakukan perbaikan untuk pelestarian, keindahan, dan tentu juga kenyamanan turis.
Ada dua jenis candi yang ditemukan di Yogyakarta, yakni candi Buddha dan candi Hindu. Kedua jenis candi ini masing-masing diwakili oleh candi termegah :iloveindonesia

Salah satunya adalah Candi Borobudur (Buddha), yang termasuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia :iloveindonesias. Sehingga obyek wisata yang dibangun pada abad ke-8 pada masa Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra ini tidak pernah dilewatkan oleh turis lokal maupun asing. Letaknya 42 kilometer di sebelah barat laut Yogya.

Candi Hindu diwakili oleh Candi Prambanan. Candi yang berada 20 kilometer sebelah timur Yogya ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi. Candi ini merupakn situs warisan dunia yang dilindungi UNESCO sejak 1991. Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara dengan tinggi bangunan utama 47 meter berbentuk menyerupai gunungan wayang kulit.

Candi Borobudur









Candi Prambanan


Memiliki tiga candi utama yang disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang Hyang Trimurti: Batara Siwa, Batara Wisnu, dan Batara Brahma

Candi yang berada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah ini dibangun pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung.
Candi ini lebih tinggi lima meter dari candi Borobudur karena pembuatnya ingin menunjukkan kejayaan Hindu.

Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Candi ini juga disebut sebagai candi Roro Jonggrang, karena berkaitan dengan legenda mengenai dara yang jonggrang atau jangkung, yang tak lain putri Prabu Boko, yang membangun kerajaannya diatas bukit sebelah selatan kompleks Candi Prambanan. :D

Candi Buddha ini merupakan peninggalan kerajaan Syailendra. Bangunan ini rampung dibuat pada 26 Mei 824 Masehi. Pada relief-relief tergambar riwayat hidup Sidharta Gautama serta ajaran-ajarannya. Ada tiga unsur yang terpapar pada relief-reliefnya, yaitu seni, budaya, dan filosofi.

Borobudur merupakan gabungan dari kata "bara" dan "budur". "Bara" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kompleks candi atau biara. Sedangkan "budur" diperkirakan berasal dari bahasa Bali, yakni "beduhur", yang berarti di atas. Jadi, Borobudur berarti biara yang berada di atas bukit :D.

Ciri khas candi ini bentuknya punden berundak terdiri atas 10 tingkat. Sebelum renovasi, tingginya 42 meter, namun kemudian menjadi 34,5 meter karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Tempat ini merupakan pusat kegiatan perayaan hari-hari besar umat Buddha.








Candi Mendut


Merupakan candi Buddha yang dibangun pada 824 Masehi oleh Raja Indera dari wangsa Syailendra. Dalam candi yang terletak 3 kilometer ke arh timur Candi Borobudur ini terdapat tiga patung besar, yakni Cakyamuni, Awalokiteswara, dan Maitreya.

Di dinding-dindingnya ada kisah-kisah untuk anak-anak. Candi ini sering kali digunakan untuk upacara perayaan Waisak pada bulan Mei ketika bulan purnama. Ditilik dari usianya, sebenarnya Candi Mendut lebih tua dari Candi Borobudur. Arsitekturnya berbentuk persegi.








Candi Pawon


Candi ini juga merupakan candi Buddha, dan hasil penelitian pada reliefnya menunjukkan candi ini merupakan permulaan relief Candi Borobudur :matabelo:. Lokasinya memang hanya 1,5 kilometer ke arah timur dari Candi Borobudur dan ke arah barat dari Candi Mendut gan :D. Apabila ditarik garis, Candi Pawon menghubungkan Candi Borobudur dengan Mendut :matabelo:.

Bangunan ini zaman dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata Raja Indera, yang bernama Vajranala. Candi terbuat dari batuan gunung berapi. Bentuk bangunannya merupakan gabungan seni bangunan Hindu Jawa Kuno dan India. Dinding-dinding luarnya penuh dengan gambar-gambar simbolik.




[




Candi Sambisari


Diperkirakan dibangun pada 812-838 M pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri atas satu candi utama dan tiga candi pendamping. Terdapat pagar yang mengelilinginya dan pembatas berupa 8 buah lingga patok, yang berada di setiap arah mata angin.

Berdasarkan penelitian geologis, candi tertimbun material Gunung Merapi ketika meletus hebat pada tahun 1906. Pada 1966, seorang petani yang tengah mencangkul menemukan bebatuannya. Dan baru 21 tahun kemudian akhirnya candi bisa berdiri sempurna.

Terletak di Desa Sambisari, Kelurhan Purwomartani, jaraknya sekitar 12 kilometer dari pusat kota Yogya, candi memiliki keunikan pada candi utamanya. Yaitu tidak memiliki alas seperti candi lain. Alhasil, kaki candi berfungsi sekaligus sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan polos

Spoiler for Foto-foto:










Candi Ijo





Inilah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain di DI Yogyakarta. Dibangun di sekitar abad ke-9, candi ini berada di bukit yang dikenal dengan nama Bukit Hijau atau Gumuk Ijo. Ketinggiannya sekitar 410 meter di atas permukaan laut. Dengan posisinya ini, ketika pengunjung datang ke sini, tak hanya keindahan dan mencermati sejarah candi yang bisa dilakukan. Pengunjung pun akan mendapat pemandangan alam berupa lahan pertanian dengan kemiringan curam.

Kompleks candi terdiri atas 17 struktur bangunan, yang terbagi dalam 11 teras berundak. Ragam bentuk seni rupa akan dijumpai sejak pintu masuk candi Hindu ini. Di antaranya motif kepala ganda yang juga menunjukkan bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha.




Sumber : http://ripkeyku.blogspot.com/2010/11/keindahan-candi-candi-di-yogyakarta.html

Selasa, 02 November 2010

Candi Ijo, Yogyakarta

Candi Ijo adalah nama sebuah kompleks candi yang terletak di Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Nama candi tersebut diambil dari nama lokasi dibangunnya candi yang oleh masyarakat setempat dinamakan Gumuk Ijo (gumuk = bukit). Bukit Ijo merupakan perbukitan tertinggi di wilayah Prambanan, dengan puncak tertinggi sekitar 410 meter di atas permukaan laut. Lokasi Candi Ijo sendiri berada pada ketinggian 357,402 m – 395,481 m di atas permukaan laut.

Candi Ijo diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Dari area candi ini, jika memandang ke arah selatan, akan nampak lembah berteras curam yang sangat indah. Tanah di perbukitan ini memang tandus, tetapi di musim hujan tumbuhan semak dan belukar nampak menyelimuti perbukitan. Apabila memandang ke arah barat, akan nampak Bandara Internasional Adi Sucipto yang berada di tepi barat perbukitan Prambanan.
Candi Ijo adalah kompleks percandian yang terdiri dari 17 struktur bangunan dan terbagi ke dalam 11 teras. Teras pertama hingga teras ke 11 merupakan teras berundak yang membujur dari arah barat ke timur. Struktur teras ini merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya Hindu dengan kebudayaan lokal yang nampak dalam struktur tempat peribadatan zaman megalitik, yaitu punden berundak.

Dari 11 teras tersebut, teras terakhir atau teras tertinggi adalah wilayah yang dianggap paling sakral, di mana terdapat sebuah candi utama dengan tiga candi perwara (pengiring). Saat ini, struktur bangunan candi yang telah berhasil dipugar adalah kompleks candi utama dan tiga candi perwara tersebut. Sedangkan struktur bangunan lainnya, dari teras pertama hingga teras kesepuluh masih dalam proses identifikasi dan proses susun-coba struktur bangunan candi.

Candi Ijo, candi yang menjadi tempat untuk memuja Dewa Siwa ini terdapat peninggalan Lingga-Yoni. Susunan Lingga-Yoni yang terdapat di dalam Candi Ijo memiliki ukuran yang cukup besar dan merupakan salah satu yang terbesar di Nusantara. Besarnya ukuran Lingga-Yoni di candi ini merupakan manifestasi dari besarnya pemujaan terhadap Dewa Siwa dan Dewi Parwati (istri Dewa Siwa). Selain merepresentasikan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, Lingga-Yoni juga merujuk pada sifat lelaki dan perempuan, sehingga dalam hal ini ia bermakna kesuburan dan awal mula kehidupan. Pemujaan terhadap Dewa Siwa melalui lingga biasa disebut lingga kultus.

Salah satu karya yang menyimpan misteri adalah dua buah prasasti yang terletak di bangunan candi pada teras ke-9. Salah satu prasasti yang diberi kode F bertuliskan Guywan atau Bluyutan berarti pertapaan. Prasasti lain yang terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm dan tebal 9 cm memuat mantra-mantra yang diperkirakan berupa kutukan. Mantra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan diantaranya yang terbaca adalah “Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa.” Prasasti ini tidak menyertakan tahun, akan tetapi dari sudut paleografis dapat diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.

Dari kota Yogyakarta, Candi Ijo terletak sekitar 28 km ke arah timur. Dapat ditempuh rute menuju Candi Prambanan dengan menggunakan bus Trans-Jogja (Trayek 1 A atau 1 B) atau menggunakan jasa taksi. Dari Candi Prambanan wisatawan menuju arah selatan dengan menggunakan jasa ojek atau taksi. Arah menuju Candi Ijo merupakan jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta-Piyungan. Setelah perjalanan sekitar 15 menit, akan nampak papan nama menuju Candi Ijo. Ikutilah papan nama tersebut hingga sampai di kompleks Candi Ijo yang terletak di tepi jalan menanjak Bukit Ijo.

Sumber : http://infojogja.net/635/candi-ijo.html

Senin, 25 Oktober 2010

Keindahan Bunga Edelweis di Gunung Gede

Edelweis (Anaphalis javanica) merupakan bunga yang hanya tumbuh pada ketinggian 2000-3000 Mdpl dan merupakan tumbuhan asli dan endemic Indonesia. Bunga ini pulalah yang menjadi kebanggaan para pendaki gunung untuk membawanya bila pendakian berhasil. Dan edelweiss adalah symbol juara atau dijadikan trofi. Tapi karena alasan konservasi beberapa kali pendakian kami tidak lagi mengambil bunga yang satu ini.

Edelweis disebut bunga abadi karena bunga ini kelihatannya tidak akan pernah layu tetapi langsung mengering tanpa berubah bentuk dan penampilannya. Bunga ini jualah bagi para pengagum cinta digunakan sebagai symbol dan keabadian cinta. Bunga abadi ini, untuk gunung-gunung di Indonesia biasanya hanya bisa dinikmati keindahannya pada bulan Maret hingga Agustus Karena untuk mekarnya bunga ini memerlukan cahaya matahari.

Bunga ini juga dilaporkan merupakan tumbuhan pioneer di daerah gunung merapi yang masih aktif pada berkas-berkas lahar dan daerah kawah. Edelweis di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bayak ditemukan pada ketinggian 2850 mdpl yaitu di alun-alun surya kencana dengan luasan mencapai 50 hektar dan alun-alun Mandalawangi.


source: http://unikboss.blogspot.com/2010/10/edelweis-di-taman-nasional-gunung-gede.html

Minggu, 24 Oktober 2010

Pulau Kanawa, Nusa Tenggara Timur

Pulau-pulau kecil, bak mutiara, menjalin Indonesia menjadi negara kepulauan nan indah. Pulau Kanawa di Kepulauan Komodo, Nusatenggara Timur, salah satu dari mutiara itu. Birunya laut yang jernih, indahnya terumbu karang, dan kesunyian yang menenangkan bisa dinikmati dengan biaya relatif murah.

Nama Pulau Kanawa pertama kali saya ketahui saat berada di ruang bagasi Bandara Komodo, Labuanbajo. Flores, Nusatenggara Timur. Beberapa poster yang mempromosikan penginapan di Labuanbajo dan sekitarnya tertempel di tembok. Saya agak bingung untuk memilih, berhubung ini kunjungan pertama di Labuanbajo.

Saat pintu keluar dibuka, serombongan laki-laki langsung masuk berhamburan. Mereka berebut menawarkan prospektus hotel. Hans, salah satu di antaranya, yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman, dengan antusias menawarkan Kanawa.

"Hanya Rp 50.000,- per malam termasuk makan pagi, ongkos antar-jemput di Labuanbajo, dan sewa alat snorkel. Hanya 40 menit dari Labuanbajo dengan kapal. Anda tidak akan kecewa, tempat ini benar-benar indah dan tenang," janji Hans meyakinkan.
Berbekal air mineral

Terpukau dengan promosi Hans, saya dan teman dari Jerman, memutuskan ke Kanawa. Hans mengantar kami dengan mobil ke Labuanbajo, sekitar 20 menit dari bandara. Gratis.

Setiba di rumah makan di Labuanbajo, hujan deras turun. Sambil menunggu hujan reda, kami menikmati masakan ikan barakuda. Sayangnya, hujan baru berhenti pukul 14.00 lewat. Akibatnya, kami tertinggal kapal jemputan ke Kanawa yang biasa menjemput tamu pukul 12.00. Cara satu-satunya, menyewa sendiri kapal ke Kanawa dengan biaya Rp 60.000,-.

Kami berbekal air mineral botol cukup banyak, karena di Kanawa air minum mahal. Kapal bergerak meninggalkan Labuanbajo, kota nelayan di barat Flores. Perjalanan melalui laut sehabis hujan menyenangkan. Awan menyisih memberikan jalan bagi sinar matahari. Langit kelabu membuat pantulan air laut tidak menyilaukan mata. Pemandangan sekitar tampak jelas, menunjukkan betapa banyaknya gugus pulau di Kepulauan Komodo. Pulau-pulau kecil tandus itu berbentuk kerucut.

Setelah satu jam berayun-ayun di perairan Kepulauan Komodo, Kanawa mulai tampak di kejauhan. Bukitnya ditumbuhi perdu, rumah panggung kayunya berjajar rapi, demikian pula pohon-pohon rindang yang berbaris teratur. Di bawah lautnya yang jernih dan beralas terumbu karang kami mengintip ikan-ikan berkejaran.

"Stop!" sang kapten berteriak mengagetkan. Rupanya lambung kapal hampir mengenai terumbu karang. Memang, Pulau Kanawa dikeliling hamparan terumbu karang. Saat laut surut, tidak ada kapal dapat merapat di pantainya. Menjelang Pulau Kanawa, sekoci kecil datang menjemput. Sedangkan kapal kami, kembali berlayar ke Labuanbajo.



Kamar mandi tak beratap

Jalan menuju setiap bungalo dibatasi dengan barisan apik cangkang karang bercat putih. Pepohonan rindang meneduhi hamparan pasir putih. Satu-dua di antara batang pohon dipasang
hammock untuk bermalas-malasan.

Bungalo itu berupa rumah panggung beralas papan. Hanya ada satu ruang untuk tidur seluas kurang lebih 4 x 4 m berdinding gedek dan beratap genting. Di dalam kamar disediakan sebuah dipan yang dilengkapi kelambu. Sebuah lampu pijar menempel di tembok dekat jendela yang menghadap pantai. Di balkon ada dua kursi yang catnya agak kusam, sebuah meja, serta tali jemuran. Sederhana tapi memadai untuk beristirahat. Terasa tenang, apalagi hanya tiga meter di depan balkon terhampar pantai pasir putih dengan laut biru sebening kaca.


Kamar mandi dan WC terletak di luar, di samping bangunan, sejajar dengan tanah dan tanpa atap. Namun, jangan takut diintip, karena kamar mandi dikelilingi tembok. Untuk mandi disediakan bak penampung air tawar yang dialirkan melalui keran, tapi untuk menyiram WC ada seember air laut. Tampak jelas imbauan menghemat air tawar terpampang di kamar mandi. Tidak heran, karena pengelola Kanawa harus membeli air tawar dari Labuanbajo untuk keperluan memasak dan mandi para tamu.


Menjelang senja, kami menunggu dengan penuh harap tergelincirnya matahari menuju peraduan malam. Sayangnya, awan mengalangi pandangan, memupus harapan itu.


Deru mesin
genset mulai terdengar begitu malam datang. Genset memang satu-satunya sumber energi listrik di Kanawa. Untuk penerang, di Kanawa dipakai lampu petromaks yang akan sedikit menghangatkan setiap bungalo yang berpenghuni. Berbeda dengan Kanawa yang sepi kilauan lampu, di kejauhan pulau tetangga, P. Mesah, ramai dengan kelip pendar lampu.

Restoran menjadi tempat sosialisasi di malam hari. Beberapa turis asing asyik mengobrol, main kartu, ataupun minum-minum. Harga hidangan yang ditawarkan restoran bisa dibilang ekonomis. Mengingat sayuran dan bahan makanan harus dibeli di Labuanbajo, bahkan dipesan dari Bali. Seporsi cah kangkung Rp 10.000,- dan satu porsi kari ayam Rp 20.000,-.


Kegiatan malam berakhir, kala angin bertiup makin kencang. Sebagian besar tamu kembali ke penginapan masing-masing, menyisakan sunyi. Yang terdengar, tinggal gemerisik daun-daun diterpa angin.


"Akuarium" raksasa

Pagi hari, pemandangan sebelum matahari keluar dari persembunyiannya sungguh mengagumkan. Langit gelap perlahan-lahan beralih kemerahan, menjadi jingga, dan akhirnya terang-benderang. Air pasang semalam meninggalkan tumbuhan makroalga yang menggeletak di sepanjang garis pantai. Petugas bungalo mulai menyapu membersihkan sisa-sisa tumbuhan itu, sambil menyapa para tamu yang baru bangun.


Hanya bagian selatan pulau ini yang dihuni. Bagian utara, yang dipisahkan dengan bukit, adalah pantai dengan terumbu karang yang lebih luas. Nama Kanawa sendiri adalah nama pohon. Entah mengapa, pulau ini disebut demikian.


Haji Idris, pemilik bungalo asal Labuanbajo, membangun resor di Kanawa kira-kira sembilan tahun lalu. Saat tidak ada tamu, penghuni pulau seluas sekitar 3 km2M itu hanya tujuh orang, yakni para petugas resor.

Pukul 09.00 sinar matahari sudah menyengat. Inilah saat terbaik untuk snorkeling sebelum matahari makin tinggi. Setelah sarapan pancake dan teh hangat di restoran, kami mengambil fin (sepatu katak) dan masker, siap ber-snorkeling.

Di tepi pantai dengan mata telanjang sekalipun tampak jelas dasar laut yang berpasir putih serta kawanan ikan-ikan kecil yang berenang bebas. Saat ber-
snorkel, rasanya seperti masuk akuarium raksasa.

Pertama kali muncul bintang laut berduri. Makhluk berwarna merah-kuning dengan diameter 20 cm itu bertebaran kira-kira 3 m dari garis pantai. Makin menjauhi pantai, kurang lebih 20 m, terbentang hamparan luas gugus terumbu karang dengan ratusan jenis ikan. Anemon laut, karang Arcopora, kepiting kecil, kerang, dan udang kecil hidup aman tak terusik. Kawanan ikan terumbu karang dengan warna-warni cerah mencolok mata berenang kian-kemari. Sementara kawanan yang lain asyik menyantap alga yang tumbuh di terumbu karang. Bila jeli, terlihat pula ular laut loreng merah hitam menyelinap di antara bebatuan. Pemandangan di "akuarium" raksasa itu memang membetahkan.


Namun, jangan pula berlama-lama di air, mengingat matahari bersinar sangat ganas pada tengah hari. Buktinya, begitu muncul di permukaan, kulit terasa panas. Tak terasa satu jam lebih berlalu untuk menyaksikan keindahan terumbu karang.


Kalaupun tak berminat terjun ke laut, kegiatan lain yang pantang dilewatkan adalah melihat budidaya mutiara, penangkaran hiu,
red snapper, dan ikan napoleon di "rumah" Ayung, pengelola bungalo. Ikan-ikan itu dipisahkan satu sama lain dengan jala. Hiu yang ditangkar adalah hiu yang masih muda. Nantinya ikan-ikan itu diekspor ke Hong Kong. Yang dimaksud dengan rumah di sini adalah bangunan panggung di lepas pantai Kanawa, kurang lebih 10 m dari pantai. Di sana, di tengah laut itu, Ayung tinggal bersama keluarganya.


Berpetualang ala Robinson Crusoe

Bila bukan musim libur, menginap di Kanawa seperti menginap di pulau pribadi. Mau berenang, memancing, berjemur sepuasnya, atau bermalas-malasan seharian di bawah ayunan pohon, dijamin tidak akan ada yang mengganggu. Jangan harap hal itu terjadi di musim liburan, karena bungalo penuh tamu.

Letak Kanawa terasing dan jauh dari kebisingan. Hampir tidak ada perahu atau kapal melintasi Kanawa, kecuali kapal antar-jemput tamu. Yang lebih membuat terasing adalah sulitnya alat komunikasi. Radio panggil menjadi satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan Kanawa dengan dunia luar. Dapat dibayangkan sunyinya kehidupan di Kanawa.

Saking sunyinya, di siang hari hanya terdengar kicau burung yang bertengger di bawah pohon kersen ataupun sayup-sayup suara percakapan atau canda petugas bungalo.

Meski suasana sangat santai, damai, dan tenang, jangan dikira Kanawa hanya untuk bermalas-malasan. Dunia petualangan ala Robinson Crusoe siap menantang.

Menurut Ayung, beberapa waktu lalu sepasang turis asal Inggris ingin berkemah di balik bukit. Mereka pun mendaki untuk mencapai dataran di balik bukit dan bermalam di sana di bawah tenda. Esok paginya mereka berenang untuk kembali ke bungalo. Kedengarannya mengasyikkan.

Merasa tertantang, dengan panduan Karim, petugas resor, kami pun mendaki bukit kecil di balik penginapan. Meski tinggi bukit tidak lebih dari 200 m, jangan lupa membawa persediaan air minum karena terik surya cepat mengundang haus. Butuh sedikit perjuangan untuk mendaki bukit yang padat ditumbuhi alang-alang tajam. Tapi, begitu tiba di atas, kepenatan terlupakan. Pemandangan Kanawa dan kepulauan sekitarnya sangat spektakuler.

Tampak jelas perairan warna air laut beralih dari biru muda menjadi biru tua, serta peralihan dari perairan dangkal ke dalam. Dari tempat ini pun kita dapat menikmati matahari terbenam. Nun jauh, terlihat lekuk-lekuk pulau-pulau yang mulai gelap tersapu awan.

Bagi pencinta hidangan laut, Kanawa bagai surga. Dengan memesan sebelumnya, makan malam dengan hidangan seperti cumi-cumi, ikan kakap, red snapper, lobster, ataupun kerang hasil tangkapan siang hari dapat dinikmati dengan harga lumayan murah. Misalkan, 1 kilogram lobster yang sudah diolah harganya Rp 75.000,-.

Memungut bintang laut kala surut

Kami beruntung dapat menikmati bulan purnama di Kanawa. Menjelang sore, saat laut surut. Terbentang daratan dadakan, yang biasanya terendam air laut, sampai kira-kira 10 m dari garis pantai. Namun, lebih dari itu banyak karang tajam mengadang. Bintang laut dan kepiting kecil berserakan di sana-sini. Sementara kapal yang tadinya mengapung di air, kini tampak terpaku kaku di daratan.

Masih saat bulan purnama yang berlangsung tiga malam berturut-turut. Selepas magrib nun di kejauhan tampak barisan lampu berkelap-kelip. Rupanya nelayan penduduk P. Mesah, yang berjarak sekitar 30 menit dengan perahu motor dari Kanawa, tengah menjalankan ritual menangkap ikan. Ritual itu mereka lakukan setiap purnama tiba. Sebuah pemandangan mengasyikkan dari jauh.

Di malam hari langit terasa begitu dekat. Udara bersih membuat kerlip bintang selatan memancar terang. Sepanjang zaman tak kenal bosan debur ombak pelahan menampar bibir pantai. Di Kanawa, sang waktu memang terasa panjang. Malam menunggu siang, siang menunggu malam. Kanawa, memang tempat tepat mencari tenang.

http://www.artikelpintar.com

Senin, 23 Agustus 2010

Gunung Lawu

Berkas abadi di balik panorama keindahan alamnya memukau, mengundang berjuta perhatian siapa saja untuk mencapai batas tertinggi.

Anda yang kerap melakukan penjelajahan mendaki gunung, atau siapa saja yang punya minta khusus berwisata. Sekiranya Gunung Lawu dapat dijadikan sebuah pilihan untuk layak dicoba. Disamping tidak terlalu berbahaya bagi wisatawan, gunung ini juga mempunyai panorama alam memukau dan memiliki hubungan dengan sejarah Kerajaan Majapahit.

Gunung Lawu berada diperbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, dan punya ketinggian 3.265 meter dari permukaan laut (mdpl). Bagi wisatawan yang pernah berkunjung ke Wana Wisata Telaga Sarangan Magetan rugi bila tidak selangkah melakukan pendakian ke gunung itu. Karena wisata gunung lawu kerap ditawarkan satu paket dengan keberadaan telaga sarangan, lantaran posisinya berada bersanding dengan obyek wisata itu.

Untuk mencapai ke gunung lawu kita perlu mencari informasi ke warga setempat, tentang jalur menuju ke Desa Cemoro Sewu maupun Desa Cemoro kandang. Kedua desa itu hanya berjarak sekitar 1 kilometer, dan dapat dibilang sebagai gerbang pendakian ke puncak lawu, warga setempat lebih mengenalnya dengan nama Argo Dumilah. Letaknya berada tidak jauh dari Kota Magetan dengan jalur jalan raya yang tidak seberapa bahaya dilewati segala jenis kendaraan, kendati jalur itu berada sekitar 1.878 mdpl.

Rute menuju kedua desa itu, ditempuh dari arah Surabaya menuju Madiun diteruskan ke Magetan, kemudian menuju ke Sarangan, dari sini kita dapat memanfaatkan angkutan desa untuk menuju ke Desa Cemoro Sewu atau ke Desa Cemoro Kandang. Sekedar catatan jika Anda sampai di desa ini, perlu mengecek kembali kebutuhan logistik tambahan yang akan dibawa hingga mencapai puncak lawu.

Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu ini adalah yang paling sering digunakan sebagai rute pendakian, jarak tempuhnya sekitar 6,5 kilometer, sepanjang perjalanan kita akan menjumpai jalanan terjal bebatuan, namun rasa capai akan terganti dengan pesona memukau dan menyapa tiada henti. Sementara satu lagi yang dapat digunakan sebagai jalur alternatif pendakian adalah dimulai dari Desa Cemoro Kandang, jarak tempuhnya sekitar 12 kilometer.

Titik Sakral
Gunung Lawu saat ini adalah tergolong gunung api yang telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan Hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan Hutan Ericaceous.

Lawu sendiri memiliki tiga puncak yang terkenal, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Ketiganya dikenal memiliki cerita sejarah dan tersimpan nilai-nilai kesakralan, bagi sebagian masyarakat yang menganggapnya keramat. Hargo dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Brawijaya Pamungkas, hargo dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan hargo dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang mengasah batin dan meditasi.

Bahkan, bila berkenan agak ke bawah, di sisi barat gunung terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit, yakni Candi Sukuh dan Candi Cetho. Sementara di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran, yakni Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, sebuah tempat yang dikeramatkan oleh keluarga Presiden Indonesia kedua.
Karena itulah gunung lawu kerap dikunjungi warga yang bermaksud berziarah, karena banyak menyimpan obyek-obyek sakral bersejarah.

Tempat sakral yang ada di kawasan gunung ini yang akhirnya dikeramatkan oleh penduduk sekitar terutama penduduk yang tinggal di kaki gunung. Tidak heran bila pada saat tertentu, seperti memasuki Bulan Muharram (Bulan Syuro), banyak orang yang datang ke gunung ini. Mereka berasal dari Tawangmangu, Karanganyar, Semarang, Madiun, Magetan, Nganjuk, dan masih banyak lainnya. Jumlahnya pun meledak bukan kepalang, dapat mencapai ratusan orang.

Tujuan mereka datang tiada lain adalah untuk berharap berkah dari Sang Kuasa, dengan melabuh harap di tempat sakral yang ada di sana. Seperti yang diutarakan Supriyono, warga asal Karanganyar, Jawa Tengah saat ditemui EastJava Traveler di Gunung Lawu. Dia mengatakan, beberapa komplek di gunung ini ia percaya sangat tepat untuk dijadikan tempat berburu berkah, terlebih pada momentum peringatan 1 Suro.

“Gunung Lawu saya percayai menyimpan mitos sejarah yang masih berhubungan dengan Kerajaan Majapahit, karena bertuah maka saya dan beberapa kawan kerap datang kemari terhitung sudah tujuh kali. Sekedar untuk berdoa pada Sang Kuasa dan berharap berkah agar tercapai tujuan hidup lebih baik,” jelasnya.

Gunung lawu sendiri menyimpan cerita sejarah yang menarik. Cerita yang berkembang di masyarakat sekitar, seperti yang dijelaskan oleh Sudarmanto, salah seorang petugas Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di Kawasan Wisata Sarangan, Gunung Lawu sejarahnya lekat dengan kisah Raden Brawijaya. “Kisahnya Raden Brawijaya lari ke Gunung Lawu untuk menghindari kejaran pasukan Demak yang saat itu dipimpin oleh putranya sendiri bernama Raden Patah, serta dari kejaran pasukan Adipati Cepu yang menaruh dendam lama kepada Raden Brawijaya,” tuturnya.

Bahkan, warga sekitar mempercayai jika Raden Brawijaya meninggal di puncak gunung ini. Dibuktikan dengan adanya cungkup serta petilasan-petilasannya di puncak hargo dalem. Menurut kisahnya, waktu itu Kerajaan Demak mengejar Raden Brawijaya lewat Raden Patah agar memeluk agama Islam, yang akhirnya ditolak oleh Raden Brawijaya.

Di Gunung Lawu inilah Raden Brawijaya melarikan diri dari kejaran dua kerajaan itu, sebelumnya sempat hendak mendirikan Candi Sukuh, yang terletak di Dusun Sukuh Desa Berjo Karanganyar atau berada di sebelah barat gunung lawu dan sayangnya tak rampung terbangun. Hingga dirinya lari menembus belantara ke puncak lawu, disanalah Raden Brawijaya mendirikan Candi Cetho, yang hingga kini pada saat-saat tertentu ramai pengunjung.

Selain kesakralan ketiga puncak dan beberapa komplek candi yang ada di kawasan gunung ini, juga masih ada dua bagian lagi yang kerap dikeramatkan oleh masyarakat yang mendaki ke sana. Yakni Sendang Panguripan dan Sendang Drajat.

Konon di Sendang Panguripan ini tersimpan kekuatan supranatural, yang sumber airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah untuk mencari kehidupan. Mereka yang mempercayai sumber air yang ada di sana, airnya pernah dimanfaatkan oleh Raden Brawijaya ketika mendaki Gunung Lawu dan punya khasiat. Sama seperti Sendang Panguripan di Sendang Drajat pun airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah.

Kamis, 19 Agustus 2010

Menikmati Indahnya Panorama Pantai Lampuuk, Aceh

Pasca tsunami daerah ini kembali banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun manca negara. Fasilitas yang ada juga cukup memadai, fasilitas konsumsi (warung-warung), kottege, lapangan bola, musalla, tempat camping/tamasya, dan lain-lain. Dengan ombak dan pasir putih yang indah memberikan kesan sendiri bila kita ke lokasi ini.


Pantai Lampuuk merupakan suatu kawasan wisata yang ada di Aceh yang terletak kira-kira 15 km dari Kota Banda Aceh. Lampuuk mempunyai pantai dengan pasir putih dan terletak di teluk sehingga tempat ini sangat cocok sebagai area rekreasi pantai baik untuk berenang atau sekedar menikmati suasana pantai yang indah.



Selain itu, di pantai lampuuk ini juga terdapat gua yang sangat indah yang dapat dimasuki wisatawan. Jika anda hobi berselancar juga sangat cocok di pantai ini karena ombaknya yang besar dan bersahabat. Pantai ini juga sering digunakan sebagai tempat lokasi untuk iklan di televisi, misalnya produk mie instan Indomie yang memanfaatkan indahnya pantai lampuuk untuk mempromosikan produknya.


Bagi anda yang berkunjung ke Aceh sebaiknya menyempatkan diri untuk hadir di sini sebagai oleh-oleh dari ujung barat sumatera. Selamat berkunjung..


Postingan Populer