Tampilkan postingan dengan label Korut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korut. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

Jika Perang Dua Korea Pecah


Polemik Korea Utara dan Selatan berawal dari Perang Korea, 1950 hingga 1953. Ini merupakan konflik pahit dan mahal yang berakhir di jalan buntu. Siapa terancam kalah?

Hingga kini, Korea Utara terus mengumpulkan pasukan militer konvensional yang besar dan tangguh untuk ditempatkan di sekitar zona netral atau Zona Demilitarized (DMZ) sebagai cara memulai invasi ke Korea Selatan.

DMZ berada di sepanjang 250 kilometer dan lebar 4 kilometer dari Laut Kuning, sisi barat Laut Jepang. Bertentangan dengan namanya, zona ini terletak dalam satu kawasan dunia yang paling banyak berhubungan dengan sisi militer.

Lebih dari satu juta tentara dan 20 ribu kendaraan lapis baja serta artileri berada di posisi siap di sekitar DMZ. Selain itu, kawasan tersebut memiliki lebih dari satu juta ranjau darat dengan berbagai posisi benteng yang dikemas dalam area kecil.

Ada pula posisi strategis yang terletak di antara DMZ dan pusat kota Pyongyang (sekitar 125 kilometer utara DMZ) dan Seoul (sekitar 40 kilometer di selatan DMZ).

Sebagai perbandingan, pasukan di kedua sisi DMZ memiliki konsentrasi lebih padat daripada mereka yang tercakup di Pakta Warsawa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara di Eropa Tengah selama Perang Dingin.

Dalam kurun beberapa tahun, banyak ahli menyangsikan kekuatan Korea Utara sekaligus menyoroti peningkatan kemampuan militer Korea Sealtan.

Saat perang berlangsung, pasukan Korea Utara menjadi semakin rentan kalah karena muncul bala bantuan AS yang balas menyerang dengan amunisi mutakhir. Jalur pasokan perang Korea Utara juga mungkin terganggu oleh para sekutu serangan artileri dan udara yang akan menyulitkan pasokan.

Selain itu, pertahanan Korea Selatan telah dipersiapkan dengan baik serta angkatan bersenjata negara itu secara kualitatif unggul, meskipun beberapa di antaranya sebanding dengan Korea Utara.

Sebagian tentara Korea Selatan ditempatkan 250 kilometer di depan DMZ. Rasio kekuatan mereka cukup padat dengan satu divisi per sepuluh kilometer. Pasukan juga beroperasi di ranah udara sehingga pihak musuh sulit untuk menembus pertahanan.

Hambatan alami juga muncul di sungai dan rawa serta kombinasi penghalang buatan seperti tambang, jembatan penghancur dan berbagai pasukan Korea Selatan yang siap menyerang Korea Utara di zona membunuh.

Meskipun tank K-1 Korea Selatan tidak memiliki kemampuan deteksi seperti US M1 Abrams, K-1 lebih unggul dan terlindungi dibandingkan tank usang Korea Utara tipe-Soviet yang hanya mampu melakukan pertempuran antar tank.

Di segala cuaca, kemampuan bergerak di malam hari juga merupakan keunggulan tank milik Korea Selatan. Peralatan ini termasuk satelit pengintai, pesawat RC-7B, pesawat surveillance target attack radar system (JSTARS), radar bawah tanah dan sistem deteksi penyusup dengan inframerah.

Di udara, pesawat Korea Selatan juga unggul karena memiliki 500 pesawat dan helikopter untuk menggagalkan serangan darat. Menggunakan data perang teluk 1991 sebagai panduan, pasukan mereka bisa menghancurkan satu kendaraan lapis baja dengan empat tembakan.

Mereka juga bisa menghancurkan kira-kira satu kendaraan lapis baja untuk setiap empat tembakan, menyebarkan Maverick, Hellfire dan rudal TOW (tube optically wire) yang mirip seperti bom laser.

Oleh karena itu, dalam teori, pasukan sekutu bisa menghancurkan beberapa ratus kendaraan lapis baja Korea Utara per hari, meskipun perkiraan ini dapat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Seiring waktu, target Korea Utara akan menjadi lebih sedikit dalam jumlah dan lebih tersebar, namun kedatangan bala bantuan udara dari AS akan meningkatkan densitas kekuatan udara di daerah operasi.

Pasukan komando Korea Utara hanya akan memiliki kemampuan terbatas untuk mengganggu pertahanan Korea Selatan. Pertama, serangan udara umumnya membutuhkan keunggulan udara serta mengetahui letak artileri musuh dan pertahanan udara mereka. Padahal, Korea Utara tidak akan bisa mendapatkan salah satu dari syarat itu.

Kedua, serangan lewat terowongan mungkin bisa lebih efektif meskipun pasukan yang melalui lorong bawah tanah itu tidak mampu menembuh begitu jauh ke dalam pertahanan Korea Selatan mengingat pendeknya jarak terowongan itu.

Tambahan, serangan lewat terowongan akan membuat pasukan Korea Utara rawan dibom apabila pihak Korea Selatan tahu apa yang mereka lakukan. Pasukan Khusus Korea Utara juga sulit menggunakan kapal selam untuk menyusup mengingat perangkat ini terbatas.

Korea Utara tidak dapat menyerang Korea Selatan tanpa menimbulkan kontra dari serangan fatal AS dan Korea Selatan. Di sisi lain, Washington dan Seoul sulit menggulingkan rezim Korea Utara dengan kekerasan atau menghancurkan aset strategis militer mereka tanpa risiko kerugian yang dahsyat dalam prosesnya.


Sumber : http://kabargempar.blogspot.com/


Sabtu, 27 November 2010

Konflik Korea

Di tengah kesulitan pangan, Korea Utara menyerang Selatan. Cari perhatian dunia?





VIVAnews – Dia dipanggil dengan nama lazim di Korea: Kim. Dia perempuan, dan usianya 41 tahun. Dengan dua putranya, Kim berhasil menembus perbatasan dua Korea, dan masuk ke Korea Selatan, 11 November 2010.

Penguasa Korea Selatan (Korsel) menutup identitas Kim. Soalnya, nyawa Kim dan dua putranya terancam. Mereka lari dari Korea Utara (Korut). Demi keselamatan kerabat mereka di kampung halaman, seperti dilaporkan VoA News, nama lengkap Kim tak boleh dibuka.

Bagi rezim komunis di Korut, ulah Kim kabur bersama dua putranya itu adalah dosa besar. Aksi itu setara pengkhianatan kepada negara. Kalau tertangkap, hukumannya berat. Mereka akan menghuni kamp kerja paksa.

Kim kini menjadi satu dari 20.000 pembelot Korut, sejak semenanjung Korea itu terpecah setelah Perang Dunia Kedua. Menurut pejabat Kementrian Unifikasi Korsel, Kim terpaksa kabur dari negaranya. Kampung mereka di Provinsi Yanggang tak lagi bisa menjadi tumpuan hidup. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 10.000 orang Korut kabur ke Korsel.

Korut kini dilanda krisis pangan. Ekonomi sulit. Keadaan Korut, seperti digambarkan Victorio Sekitoleko, seorang pejabat Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), tak begitu baik. Victorio melawat Korut, September lalu. Dia mengunjungi rumah dan sekolah. "Saya melihat orang-orang di jalan. Setiap menatap mata mereka, yang kita saksikan adalah orang kelaparan," tutur Sekitoleko.

Dia lalu mencatat, lebih dari 30 persen orang Korut mengalami kekurangan pangan cukup parah. Mereka akhirnya nekad, menerobos perbatasan, meski harus bertaruh nyawa.

Serangan ke selatan

Krisis itu tak hanya membuat warga Korut frustasi. Bahkan, penguasa Kim Jong-il berupaya menarik perhatian internasional atas krisis di negeri mereka. Pyongyang pun kadang bertindak nekad. Korsel dijadikan sasaran tembak.

Itu sebabnya Korut kembali disorot dunia atas serangan artileri ke Pulau Yeonpyeong, Korsel, 23 November 2010. Sedikitnya empat orang di Korsel, dua diantaranya warga sipil, tewas akibat serangan itu. Dua hari kemudian, Menteri Pertahanan Korsel, Kim Tae-young, mundur dari jabatannya setelah dianggap tak mampu mengantisipasi, dan memberi tindakan cepat serangan Korut.

Sebagai negara Stalinis terakhir di dunia, Korut kerap dituding oleh negara Barat sebagai biang keladi konflik di Semenanjung Korea. Banyak pihak was-was bila krisis dibiarkan maka bisa menjadi pemantik terjadinya perang skala besar.

Kendati bersiaga penuh, Korsel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS), menahan diri tak langsung membalas berupa serangan frontal. Tak mau gegabah, mereka sadar lawan yang dihadapi adalah negara nekad. Korut dianggap tak punya apa-apa lagi, selain harga diri dan senjata. Kantor berita Associated Press, mengatakan kalangan intelijen AS yakin Korut punya delapan sampai dua belas bom nuklir yang siap dipindahkan ke rudal.

Kecaman atas serangan ke Korsel itu pun dikritik China, sekutu terdekat Korut. Meksipun reaksi Beijing tak sampai mengecam dan marah seperti halnya Amerika Serikat (AS), Korsel, Jepang dan sekutu-sekutu Barat lainnya.

Saling tuding

Kedua Korea saling tuduh mengenai siapa penyulut gejolak kali ini. Korsel, seperti dikutip kantor berita Yonhap, menuding Korut sebagai pihak pertama pemantik konflik.

Sebaliknya, kantor berita Korut KCNA, menyebutkan Korsel pertama kali melontarkan tembakan. Pada saat itu Korsel sedang latihan militer di perairan dekat Yeonpyeong. Sebagian perairan di Laut Kuning itu masih dipersengketakan kedua negara.

Dalam siaran televisi pemerintah Korut, rezim di Pyongyang menyalahkan Korsel - yang mereka anggap sebagai pemerintahan boneka AS dan sekutu-sekutunya. "Angkatan bersenjata terpaksa mengambil tindakan militer atas provokasi militer oleh rezim boneka," demikian siaran televisi Korut seperti yang dikutip harian Korsel, Chosun Ilbo, dua hari setelah serangan berlangsung.

Bahkan Korut berani mengancam akan kembali melakukan serangan. "Bila kelompok boneka itu berani masuk ke wilayah kami, bahkan 0,001 mm pun, angkatan bersenjata revolusioner akan tidak ragu-ragu mengambil tindakan militer balasan yang tidak mengenal ampun," lanjut siaran itu lagi.

Masalahnya, bukan kali itu saja Korut bikin ulah. Sejumlah insiden berlangsung sejak Perang Korea 1950-1953. Pada Maret lalu, torpedo kapal selam Korut merontokkan satu kapal patroli Korsel. Sekitar 46 pelaut tewas. Sebelumnya, pada 1987, sekitar 104 penumpang dan 11 awak pesawat Korean Air tewas akibat ledakan bom di dalam pesawat yang dilakukan agen-agen intelijen Korut.

Pada dekade 1970an, Korut pun berulah dengan menculik sejumlah warga Jepang dan Korsel. Mereka pun gemar berkonfrontasi dengan negara-negara Barat di forum diplomasi, terutama soal senjata nuklir. Itulah sebabnya, berkali-kali Korut mendapat sanksi ekonomi, dan perdagangan dari Dewan Keamanan PBB dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti agama

Mantan Presiden AS, Jimmy Carter, mengakui tak mudah menghadapi Korut. Terlepas dari kemampuan militernya yang cukup tangguh, apalagi memiliki teknologi senjata nuklir, Korut sulit diajak kompromi dan cenderung mudah tersinggung.

"Berurusan dengan Korut telah lama menjadi tantangan bagi AS," tulis Carter dalam opininya di harian Washington Post, 24 November 2010. Presiden AS ke-39 itu menilai ada semacam karakter khusus yang membentuk rezim, dan masyarakat di Korut. Meraka tidak mudah tunduk kepada pengaruh asing. Carter menyebut karakter itu sama seperti agama.

"Agama resmi di masyarakat yang tertutup itu adalah 'juche.' Itu artinya bertumpu pada diri sendiri dan jangan mau didominasi pihak lain," kata Carter. Dengan kata lain, demi mendapatkan sesuatu, mereka memilih berjibaku ketimbang tunduk pada perintah orang lain, apalagi dengan pihak yang dianggap musuh.

Karakter itulah yang selalu ditekankan pemimpin Korut sejak akhir Perang Korea. Terutama oleh Kim Il-sung hingga ke putranya yang menjadi penguasa saat ini, Kim Jong-il. Sikap itu tampaknya akan diwariskan kepada putranya, Kim Jong-un, calon pemimpin generasi ketiga.

Korut tidak pernah gamblang menjelaskan alasan atas serangan dan sabotase yang mereka lakukan selama ini. Namun, kalangan pengamat menduga serangan ke Pulau Yeonpyeong dan kasus-kasus insidentil terkait meredupnya harga diri atau prestise Korut di panggung dunia.

Kelaparan

Kekuatan militer Korut memang dipandang tangguh. Riset Library of Congress maupun badan intelijen CIA memasukkan Korut ke dalam kelompok 20 negara militer terkuat di dunia. Korut pun dianggap masuk "kelompok macho," yaitu negara-negara yang punya teknologi senjata nuklir.

Tapi, selain itu, tak ada lagi yang bisa diandalkan Korut. Negara itu tertinggal jauh dari tetangga sekaligus seterunya, Korsel. Korut tidaklah semakmur 40 atau 50 tahun lalu. Saat itu, ekonomi mereka jauh lebih baik dari Korsel, yang merangkak dari nol setelah porak poranda akibat Perang Korea. Tapi situasi kini berbalik.

Korsel kini masuk dalam kelompok negara-negara elit, diantaranya sebagai anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan dan G20. Sementara, Korut tampak kian meralat. Saat tetangga mereka larut dalam hiruk pikuk sebagai tuan rumah sejumlah peristiwa penting dunia - seperti Olimpiade 1988, Piala Dunia 2002, hingga KTT G-20 November lalu - rakyat Korut dilanda kesulitan pangan sejak dekade 1990an.

Mayoritas rakyat Korut terancam menghadapi kelaparan yang berkelanjutan pada tahun mendatang. Itu akibat cuaca buruk membuat jadwal panen terganggu, demikian laporan gabungan dari dua lembaga PBB, yaitu Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Program Pangan Dunia (WFP), pada 16 November 2010.

Laporan itu merujuk pada kunjungan tim gabungan itu ke Korut, atas undangan pemerintah setempat selama 21 September hingga 2 Oktober 2010. Mereka bertugas meninjau hasil panen tahun ini sekaligus membuat proyeksi tahun depan, serta menaksir seberapa bantuan pangan yang dibutuhkan rakkyat Korut.

Hasilnya sangat memprihatinkan. Selain hasil panen yang terganggu, sekitar lima juta jiwa - atau kurang lebih 20 persen dari total populasi Korut - membutuhkan bantuan pangan. Mereka sebagian besar adalah anak-anak, ibu hamil maupun menyusui serta kaum jompo yang tidak punya bantuan dari kerabat.

Menurut laporan FAO dan WFP, rakyat Korut dalam beberapa dekade terakhir sering menderita kekurangan pangan. Situasi terjadi saat wilayah mereka dilanda cuaca buruk sehingga merusak tanaman di ladang pertanian kolektif. Itu adalah cara utama bagi rakyat di pedesaan mendapatkan makanan. Bila panen, hasil pertanian kolektif itu lebih banyak dikirim ke kota sebagai pajak negara.

Situasi itu berkembang sangat buruk pada pertengahan 1990-an. Menurut laman harian The Guardian, saat itu banyak warga Korut tewas. Jumlahnya bervariasi antara 600.000 hingga lebih dari dua juta jiwa.

Sejak saat itu, negeri ini sangat tergantung pada bantuan pangan, terutama dari tetangga sekaligus "musuhnya," Korsel. FAO dan WFP mengingatkan, kendati sudah ada kiriman paket beras dan mi instan dari Korsel September lalu, bantuan itu masih sangat kurang, tidak sampai 4 persen dari jumlah yang dibutuhkan.

Pemerintah Korsel pun prihatin atas masalah melanda tetangganya di utara. "Krisis pangan Korut merupakan 'bencana kelaparan yang bergerak lambat,' yaitu menimbulkan dampak dalam waktu lama. Sepertinya, kelaparan telah menimbulkan kerugian bagi seluruh sendi kehidupan populasi Korut," demikian pernyataan lembaga informasi statistik Korsel, Statistics Korea.

Pembelot

Saat pemerintah komunis itu bersikeras tetap memusuhi Korsel, banyak warga Korut justru hijrah diam-diam ke Selatan. Tujuannya bukan soal menikmati kebebasan, taoi ini urusan perut agar lolos dari bencana kelaparan, dan kemiskinan di Korut.

Menurut harian JoongAng Ilbo, saat ini Korsel menampung lebih dari 20.000 pembelot dari Korut. Kondisi mereka menyedihkan. Banyak para pembelot kehabisan uang karena dipakai untuk membayar calo yang menawarkan jasa untuk membelot. Kalaupun ada, mereka terpaksa membongkar celengan untuk membayar calo agar bersedia menjemput sanak saudara dari Korut. Tentu menggunakan cara ilegal. Soalnya, pemerintah Korut tak sekalipun mengizinkan warganya menyeberang ke Korsel.

Akibat ketatnya penjagaan perbatasaan Korsel-Korut, warga yang mau kabur dari Korut harus menyeberang dulu ke China, negara yang berbatasan dengan utara Korut. Itu merupakan jalan berbahaya, namun tidak ada pilihan lain.

Menurut radio VOA News, kaum perempuan dan anak-anak banyak diselundupkan ke China. Tanpa bekal cukup dan berstatus pendatang gelap, mereka akhirnya menjadi pekerja seks, kawin paksa, atau menjadi buruh rendahan. Itulah membuat perdagangan manusia dari Korut ke China, menurut data Departemen Luar Negeri AS, termasuk tertinggi di dunia.

Pemerintah China menganggap para penyelundup itu sebagai "migran ekonomi," terpaksa menyusup karena kesulitan ekonomi. Bila tertangkap, mereka dipulangkan paksa ke Korut, dan terancam menerima hukuman berat dari penguasa.

Kalangan pengamat mengaitkan kesulitan pangan Korut itu dengan serangan di Yeonpyeong. Serangan itu bisa diartikan sebagai pesan, bahwa Korut sedang krisis, tapi tak harus sampai mengemis-ngemis. Apalagi, AS masih menolak mencabut embargo ekonomi dan perdagangan atas Korut.

"Tidak bisa menekan Washington, akhirnya mereka berbuat ulah lagi kepada Seoul," kata Choi Jin-wook, peneliti dari South Korean Institute for National Unification, seperti yang dikutip The New York Times. "Mereka berada dalam situasi yang putus asa dan mereka butuh bantuan pangan secepatnya, bukan tahun depan," kata Choi.(np)


Minggu, 24 Oktober 2010

Umumnya Di Korea Utara



Mungkin terlalu sedikit yang bisa diketahui oleh dunia luar tentang kehidupan masyarakat di negara Republik Rakyat Demokratik Korea. Seperti negara penganut ideologi komunis lainnya, negara yang lebih dikenal dengan sebutan Korea Utara ini pun cenderung menutup diri terhadap sorotan pers internasional. Sikap ini jelas jauh berbeda dengan negeri saudaranya yang ada di selatan, Korea Selatan.

Meskipun cenderung terisolir dari publikasi, tapi selalu saja ada orang yang berhasil mendapatkan informasi secara langsung tentang kehidupan masyarakat di Korea Utara. Misalnya seperti yang sudah dilakukan oleh Ian Scot. Blogger asal negeri Inggris ini mencoba mengunjungi 100 negara di berbagai belahan dunia. Diantara negara-negara yang dikunjunginya, Ian merencanakan tinggal atau menetap lama di 20 negara. Dan salah satunya adalah Korea Utara.


Ada beberapa hal-hal unik dan aneh tentang kehidupan masyarakat di Korea Utara yang mungkin jarang diketahui oleh dunia luar. Bagi Ian Scot sendiri, fakta-fakta itu cukup membuatnya terkejut. Adalah wajar jika kemudian ia mempublikasikannya pada personal weblog yang dikelolanya. Hal-hal unik dan aneh di Korea Utara itu dapat kita baca dibawah ini.

Di Korea Utara tidak ada orang yang bersiul

Bahkan dikabarkan banyak orang Korea Utara yang memang tidak bisa bersiul. Ketika Ian Scot menanyakan hal itu kepada para siswa sekolah disana, mereka menjawab bahwa bersiul adalah hal yang dianggap tabu di negara itu.


Tidak boleh menulis menggunakan tinta berwarna merah

Di Indonesia sering juga kita menjumpai kebiasaan untuk melarang menggunakan tinta berwarna merah saat menulis. Umumnya karena dianggap tidak sopan. Tapi tinta merah di Korea Utara hanya boleh digunakan untuk menulis nama-nama orang yang sudah meninggal dunia


Ada chanel TV yang khusus menayangkan permainan Video Game

http://files.g4tv.com/ImageDb3/180393_S/Videogames-in-North-Korea.jpg
Ada sebuah saluran televisi yang khusus menyiarkan sebuah permainan yang disebut dengan nama Paduk. Ini sebuah permainan yang mirip seperti permainan catur. Selain itu ada saluran TV lainnya yang hanya menayangkan kegiatan para remaja bermain video game.


Tayangan iklan di TV lebih lama

Di Indonesia maupun di banyak Negara lainnya, tayangan iklan di TV bisa dipastikan durasinya lebih sedikit dibandingkan dengan durasi acara utama. Tapi di Korea Utara justru sebaliknya, tayangan komersial (iklan) justru yang memiliki durasi lebih banyak. Hingga acara utamanya terasa hanya sebagai selingan.


Negara dengan banyak loudspeaker

Ian Scot mengatakan, di negara-negara lain ia belum pernah melihat begitu banyak loudspeaker yang dioperasikan di jalan-jalan seperti di Korea Utara. Hampir di sepanjang jalan yang dilaluinya ia menjumpai banyak pengeras suara dengan volume maksimum yang mengiklankan berbagai produk dagangan. Dari bawang hingga produk komputer. Loudspeaker-loudspeaker di sekolah-sekolah bahkan lebih nyaring lagi. Mengumandangkan lagu anak-anak, instruksi-instruksi tentang peraturan sekolah dengan suara yang menggelegar.


Negara dengan istana-istana besar

http://www.brisbanetimes.com.au/ffximage/2008/09/24/town_car_palace_gallery__600x384.jpg

Yang unik dan aneh di Korea UtaraNegara dengan bangunan hotel tertinggi

Pernah mendengar nama Ryugyong Hotel? Konon bangunan ini sering diolok-olok dengan sebutan The Pyongyang Ghost Tower. Sebuah bangunan setinggi 330 meter yang direncanakan sebagai hotel dan terletak di kota Pyongyang. Pembangunannya dimulai pada tahun 1987 dan karena pemerintah mengalami kesulitan keuangan, proyek ini terhenti pada tahun 1992. Dan baru pada bulan April 2008 yang lalu pembangunannya dilanjutkan lagi. Bayangkan, selama 16 tahun bangunan raksasa ini terbengkalai. Dikabarkan hotel dengan kapasitas 3.000 kamar ini direncanakan akan rampung pada tahun 2012.

Tidak menggunakan pisau

Di Korea Utara, orang tidak menggunakan pisau untuk memotong bahan-bahan makanan seperti mie, sayuran, daging, dan sebagainya. Mereka menggunakan gunting panjang. Anda dapat melihat pemakaian gunting itu saat bersantap pada semua restoran di negeri itu. Ian Scot sendiri berpendapat bahwa pemakaian gunting itu terasa lucu tapi masuk akal. Memang lebih mudah memotong bahan-bahan makanan tertentu dengan menggunakan gunting dibanding dengan menggunakan pisau.


Tidak ada mobil-mobil buatan Jepang

Korea menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki mobil-mobil buatan Jepang yang berkeliaran di jalan-jalan di negara itu. Mobil-mobil buatan Negara lain pun tidak akan kita jumpai. Semua mobil harus buatan Korea Utara.


Nomor-nomor rumah yang membingungkan

Di banyak negara, termasuk Indonesia, penomoran rumah sebagai alamat biasanya dilakukan dengan urut. Jika rumah Anda bernomor 27 maka rumah di sebelah akan bernomor 28, contohnya seperti itu. Tapi penomoran rumah secara urut seperti itu tidak berlaku di Korea Utara. Bisa saja terjadi di sebelah rumah bernomor 1 adalah rumah dengan nomor 88, sementara rumah dengan nomor 2 justru berada di ujung jalan. Setelah diperhatikan, ternyata penomoran rumah disesuaikan dengan usia rumah tersebut. Sebuah rumah yang berusia paling tua yang terletak di sebuah jalan maka rumah itu akan diberi nomor 1. Rumah dengan nomor 2 adalah rumah yang dibangun setelah rumah yang bernomor 1 tadi. Begitulah seterusnya.


North Korean Trafic Lady

Istilah Trafic Lady hanya ada di Korea Utara, khususnya di kota Pyongyang. Konon tidak ada lampu lalu-lintas di jalanan kota itu sehingga di setiap persimpangan jalan yang strategis selalu di tempatkan petugas polisi yang biasanya seorang wanita untuk mengganti tugas lampu lalu-lintas di jalanan tersebut.

Rabu, 18 Agustus 2010

KORUT Dalam Gambar

Spoiler for 1:

Penduduk Korut dan para tentara ikut merayakan hari jadi ke 60 Korut pada tangga 9 September 2008. Foto ini diterbitkan oleh kantor berita resmi Korut, KCNA.


Spoiler for 2:

Foto yang diterbitkan oleh kantor berita China, Xinhua, memperlihatkan para tentara wanita Korut berbaris melewati Lapangan Kim Il Sung di Pyongyang, ibukota Korut, dalam perayaan hari jadi ke 60 Korut.


Spoiler for 3:

Tentara Korut berparade melewati Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, Korut, 9 September 2008. (Foto Kyodo News).


Spoiler for 4:

Beberapa tentara wanita Korut beserta persenjataan anti pesawat terbang, berparade melewati Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, Korut, 9 September 2008 . (Foto: Kiyodo News).


Spoiler for 5:

Ribuan rakyat Korut berkumpul bersama menyaksikan dan ikut ambil bagian pada parade militer di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, Korut, 9 September 2008. (Foto: Kiyodo News).


Spoiler for 6:

Sekumpulan tentara Korut tampak dalam suasana informal yang santai. Pengambil foto ini, Eric Laffforgue mengatakan : “Tak mudah mengambil foto tentara yang sedang tersenyum !”


Spoiler for 7:

Lebih dari 100 ribu orang Korut ikut ambil bagian membentuk formasi pada acara Olahraga Masal (Mass Games) di Pyongyang, Korut, 13 Agustus 2008. (Foto : Wally Santana)


Spoiler for 8:

Para pemudi Korut membentuk formasi senam, bagian dari 100 ribu peserta yang ikut dalam Olahraga Masal (Mass Games) di Pyongyang, Korut, 13 Agustus 2008. (Foto: Wally Santana)


Spoiler for 9:

Ratusan perempuan muda membentuk formasi pada Olahraga Masal di Korut, 12 September 2008. (Foto: Eric Laffforgue)


Spoiler for 10:

Korut tidak hanya mengadakan Olahraga Masal, tetapi juga mengadakan Tarian Masal (Mass Dance). Tampak wanita muda Korut ikut ambil bagian pada acara Tarian Masal. Eric Laffforgue:”Lebih dari 100.00 ribu penari berada di lapangan raksasa. Penonton diundang untuk ikut bergabung. Musik dimainkan oleh para pemain band secara “live”. Pertunjukan ini berlangsung selama 1 jam, setelah itu lampu-lampu dimatikan, kurang dari 5 menit lapangan menjadi kosong, dan setiap orang pulang ke rumah masing-masing dalam kegelapan jalan di Pyongyang.” (Foto: Eric Laffforgue).


Spoiler for 11:

Seorang gadis tampak sedang menyanyikan lagu patriotik pada acara pertunjukkan di gedung sekolah anak-anak Mangyongdae, pada 17 April 2008. (Foto: Eric Laffforgue).


Spoiler for 12:

Eric Laffforgue : “Pemandangan Pyongyang diambil fotonya dari hotel Yanggakdo. Di Korut, tidak ada lampu-lampu penerangan untuk umum. Rumah-rumah penduduk lampu penerangannya sangat rendah daya listriknya. Akibat krisis BBM, ibu kota Pyongyang pada malam hari sepi kendaraan, tidak ada kehidupan malam. Hanya monumen-monumen saja yang terang benderang jika ada acara festifal pada malam hari. Setiap jam, selama 1 jam, mulai jam 6 sore sampai tengah malam, pengeras suara memperdengarkan lagu-lagu patriotik secara kencang-kencang. Para turis dilarang keras meninggalkan hotel untuk jalan-jalan berkeliling kota, walaupun Pyongyang adalah kota aman. Itulah peraturannya !” (Foto: Jo Yong-Hak).

Spoiler for 13:

Pemandangan jalan di Pyongyang, tampak samar-samar Hotel Ryugyong yang pembangunannya macet sejak tahun 1992. Eric Laffforgue : “Setiap hari Minggu, mobil dilarang keluar ke jalan, hanya kendaran militer dan pejabat pemerintah yang diperbolehkan . Alasannya adalah untuk mencegah polusi !”
(Foto: Eric Laffforgue).

Maaf Tidak Ada Nomor 14


Spoiler for 15:

Eric Laffforgue: ”Jalan raya (highway) di Korut sangat lebar dan sepi kendaraan mobil. Pesawat bisa mendarat di jalan raya itu. Anda bahkan bisa melihat anak-anak bermain di tengah jalan raya. Keamanan di jalan raya merupakan problem, karena anak-anak dan orang tua sering menyeberang jalan begitu saja tanpa melihat ke arah kendaraan yang datang. Satu-satunya kendaran yang kadang-kadang anda lihat adalah kendaran militer. Hampir seluruhnya di temui berhenti di tepi jalan, mogok karena rusak. Atau anda juga bisa melihat kendaraan mewah bermerk Mercedes terbaru milik pejabat pemerintah Korut, melesat dengan kecepatan tinggi !” (Foto: Eric Laffforgue).


Spoiler for 16:

Seorang anak kecil tampak di depan sebuah gedung tempat kediaman penduduk di Pyongyang pada 12 April 2008. Eric Laffforgue:”Pada hari Minggu pagi, seluruh anak-anak mengikuti latihan Olahraga Masal, termasuk juga orang tuanya, sehingga gedung-gedung dan jalan-jalan disekitarnya tampak kosong total. Suasana yang sungguh ganjil !” (Foto: Eric Laffforgue).


Spoiler for 17:

Perumahan apartemen di Korut, yang tampak dari seberang “zona bebas militer” (demilitarized zone) antara 2 Korea (Korut dan Korsel), dari kota Kimpo, sebelah utara Seoul, Korea Selatan. (Foto: Yonhap, Baek Seung-yul)


Spoiler for 18:

Pedesaan yang dibangun oleh Korut sebagai propaganda, terlihat dari lokasi Observasi Yeolsoe, Korea Selatan, kira-kira 62 km sebelah utara kota Seoul, 27 Agustus 2008. (Foto: Jo Yong-Hak).


Spoiler for 19:

Seorang tentara wanita sedang berjalan di pedesaan. Fotografer Eric Laffforgue :”Saya tak tahu kemana mereka pergi, saya tak tahu apa yang mereka perbuat. Jika anda mengunjungi pedesaan, anda akan melihat banyak tentara jalan-jalan, …. jauh dari sesuatu yang diperbuat.” (Foto: Eric Laffforgue).


Spoiler for 20:

Seorang wanita mengendong bayinya di belakang, membonceng motor bersama suaminya, seorang tentara, menyusuri jalan di tepi sungai Yalu, dekat kota Qing Cheng, 12 September 2008. (Foto: David Gray).


Spoiler for 21:

Sebuah perahu motor membawa tentara Korut menyusuri sungai Yalu menuju kota Qing Cheng, Korut, sekitar 50 km utara perbatasan China, kota Dandong, 12 September 2008. (Foto: David Gray).


Spoiler for 22:

Seorang wanita Korut, sedang mencuci pakain di tepi sungai Yalu dekat kota Qing Yeng, 12 September 2008. (Foto: David Gray).


Spoiler for 23:

Tiga anak perempuan Korut melewati rumahnya di tepi sungai Yalu, dekat kota di Korut, Qing Cheng, dekat kota di China, Dandong, 12 Setember 2008. Bulan Agustus 2008, Badan Program Pangan Dunia (United Nations World Food Program) mendesak negara-negara pendonor untuk mengeluarkan dana sebesar 160 juta dollar AS untuk membantu Korut secara kemanusiaan, terlepas dari kepentingan politik. Korut mangalami krisis pangan sejak tahun 1990. (Foto: David Gray).


Spoiler for 24:

Seorang tentara wanita Korut, mengintip dari balik pohon pada saat ia berpatroli di samping pagar kawat perbatasan sepanjang tepi sungai Yalu dekat kota Qing Cheng, Korut, 12 September 2008. (Foto: David Gray).


Spoiler for 25:

Tampak beberapa tentara siap-siap dengan senjatanya ketika perahu motor turis mendekat ke arah mereka di tepi sungai Yalu, dekat kota Sinuju, Korut, berhadapan dengan perbatasan kota Dandong, China, 13 September 2008. (Foto: David Gray).


Spoiler for 26:

Seorang tentara wanita Korut sedang mengawasi dari balik pos penjagaan di depan perbatasan sungai Yalu, 24 Maret 2009. (Foto: Andy Wong).


Spoiler for 27:

Seorang tentara wanita Korut sedang berdiri berjaga-jaga di perbatasan sungai Yalu, berhadapan dengan perbatasan kota di China, Hekou, 23 Maret, 2009. (Foto: Andy Wong).


Spoiler for 28:

Penjaga perbatasan Korut berhenti sejenak di tepi sungai Yalu di perbatasan China dekat kota Hyesan, Korut, , April 2009. (Foto: Reinhard Krause).


Spoiler for 29:

Pekerja wanita Korut sedang bekerja di depan sebuah gedung bergambar pemimpin terdahulu mereka, Kim Il Sung, di kota Hyesan, 5 April 2009.
(Foto: Reinhard Krause).


Spoiler for 30:

Para pekerja Korut sedang berjalan ke arah sebuah pabrik di kota Hyesan, 4 April 2009.
(Foto: Reinhard Krause).


Spoiler for 31:

Dua orang laki-laki bersepeda di pinggir sungai Yalu, berlatar belakang rumah-rumah penduduk, di kota Hyesan, Korut, 5 April 2009. (Foto: Reinhard Krause).


Spoiler for 32:

Seorang wanita membawa air dalam ember yang diperoleh dari sungai Yalu di kota Hyesan, Korut, 6 April 2009. (Foto: Reinhard Krause).



Spoiler for 33:

Para pekerja Korut tersenyum ketika pengunjung dari China melambaikan tangannya ke arah mereka dari kapal penumpang, sementara di belakangnya tampak tentara penjaga perbatasan Korut mengawasi ke arah perbatasan sungai Yalu di kota Sinuiju, 22 maret 2009. (Foto: Andy Wong)
.


Spoiler for 34:

Dua anak laki-laki Korut, melempar batu dari tepi sungai Yalu pada saat kapal penumpang lewat, di bagian utara selatan Kota Siniuju, 3 April 2009, berseberangan dengan kota Dandong, China. (FREDERIC J. BROWN/AFP/Getty Images)


Spoiler for 35:

Beberapa anak Korut tampak sedang berkelahi di tepi sungai Yalu, Korut, 5 April 2009. (Foto: Ng Han Guan)


Spoiler for 36:

Tentara penjaga perbatasan Korut, melempar batu ke arah fotografer ketika mereka sedang bertugas di lapangan di tepi sungai Yalu, dekat kota Hyesan, Korut, 6 April 2009.
(Foto: Reinhard Krause).


Spoiler for 37:

Seorang pengunjung berjalan di sebuah jembatan yang patah (broken bridge) di kota Dandong, China, yang digunakan untuk menghubungkan China dan Korea Utara sebelum jembatan ini dibom oleh AS ketika terjadi Perang Korea. Dan sekarang menjadi obyek wisata yang menarik di sungai Yalu. (Foto: PETER PARKS/AFP/Getty Images).


Spoiler for 38:

Menjelang senja di sungai Yalu, 3 April 2009, sungai yang memisahkan kota Siniuju, Korut, dengan kota Dandong, China, yang saling berhadapan. Lampu-lampu menerangi sebuah jembatan sungai Yalu, sebuah jembatan tanpa nama yang patah. (FREDERIC J. BROWN/AFP/Getty Images.)

Postingan Populer