Tampilkan postingan dengan label Chines Room. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chines Room. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

12 Cara Mendeteksi Qi Dan Xie

Epochtimes.co.id

Dua belas tips sederhana berikut dapat digunakan untuk mendeteksi apakah Qi (energi) dan Xie (darah) Anda termasuk dalam kategori cukup. Cara yang cepat dan tepat menjadi “dokter” bagi diri sendiri.

1. Mengamati mata:

Pengamatan pada mata terutama ditujukan pada bagian mata yang berwarna putih. Ada ungkapan umum yang mengatakan, “Jika bola mata menguning, menandakan pemiliknya sudah tua.” Menurut pandangan ilmu pengobatan tradisional China, jika bagian mata bagian putih berubah menjadi kuning, keruh, dan sedikit memerah, ini menandakan Qi Xie kurang.

Jika bagian mata bagian putih berubah menjadi kuning, keruh, dan  sedikit memerah, ini menandakan Qi Xie kurang. (GETTY IMAGES)

Selanjutnya pengamatan dilakukan pada kelompak mata. Jika kelopak mata dapat dibuka selebar-lebarnya kapan saja kita inginkan, artinya Qi Xie cukup. Namun sebaliknya jika kantung mata sangat besar, kelopak mata terasa berat, dan mata terasa kering, lengket, dan tidak enak, ini semua menandakan Qi Xie kurang.

2. Mengamati kulit:

Kulit berwarna putih kemerahan, berseri-seri, kenyal, tanpa keriput, dan tanpa flek menandakan Qi Xie cukup.

Sebaliknya jika kulit kasar, tidak bercahaya, gelap, dan kekuning-kuningan, serta wajah tampak pucat, kehijauan, atau kemerahan dan berbintik-bintik, menandakan kondisi tubuh kurang baik, kekurangan Qi Xie.

3. Mengamati rambut:

Rambut yang hitam, lebat, dan lembut menandakan Qi Xie cukup.

Bila rambut kusut, rontok, bercabang, atau tumbuh helaian rambut yang berwarna kuning atau putih menandakan Qi Xie kurang cukup.

4. Mengamati telinga:

Kualitas kesehatan masyarakat modern kini semakin menurun dibanding masa lampau. Jika kita amati dengan teliti, bentuk telinga orang zaman sekarang umumnya kecil, lebih keras, dan sedikit berubah dibanding bentuk telinga orang zaman dulu.

Bentuk telinga yang besar, berisi, dan empuk sudah sangat jarang terlihat pada anak-anak atau anak muda zaman sekarang. Sedangkan telinga yang besar sering ditemukan di kalangan orang lanjut usia, ini menandakan kualitas kesehatan orang dulu lebih baik daripada orang zaman sekarang.

Pada anak kecil, pengamatan terutama dilakukan pada bentuk telinga, sedangkan pada orang dewasa, selain mengamati bentuk juga perlu melihat warna dan kilaunya. Apakah ada rasa nyeri atau berbintik-bintik? Bila telinga berwarna merah muda, bercahaya, tanpa bintik, tanpa keriput dan ‘berisi,’ ini menandakan Qi Xie cukup.

Bila telinga berwarna gelap, tidak bercahaya, menandakan Qi Xie sudah menurun.

Bila telinga telah berubah kisut, kering, berbintik-bintik, banyak keriput, ini menandakan fungsi ginjal orang tersebut sudah sangat lemah, Anda harus menaruh perhatian.

5. Mengamati suhu tangan:

Jika sepanjang tahun, suhu tangan selalu hangat, tandanya Qi Xie cukup, bila telapak tangan cendrung panas atau tangan sangat dingin, semua ini menandakan kekurangan Qi Xie. Kondisi ini terutama tercermin pada perempuan.

6. Mengamati seluruh ujung jari:

Baik orang dewasa maupun anak-anak, bila ujung jari (di bagian telapak tangan) berbentuk pipih, halus, dan lembek, menandakan kekurangan Qi Xie , namun bila ujung jari berbentuk elastis dan berisi menandakan Qi Xie cukup.

7. Mengamati pembuluh darah (yang terlihat) biru:

Bila urat pembuluh darah terlihat biru pada jari telunjuk orang dewasa, menunjukkan saat kecil fungsi pencernaan tidak baik, dan kondisi ini terus berlanjut hingga dewasa. Orang yang masuk dalam golongan tersebut terbukti fisiknya lemah, Qi Xie sangat kurang.

Bila pembuluh darah biru terlihat pada jari kelingking, menandakan kurangnya Qi ginjal.

Bila bagian bawah telapak tangan yang mendekati pergelangan tangan terdapat banyak kerutan mendalam, menandakan saat kecil kekurangan gizi, fisik lemah, kekurangan Qi Xie. Setelah tumbuh dewasa, perempuan yang termasuk dalam kategori tersebut mudah menderita penyakit perempuan, sedangkan pria mudah menderita pembesaran prostat, gout (penyakit metabolisme), dan gejalalain.

8. Mengamati bentuk bulan sabit pada kuku jari:

Pada kondisi normal, kecuali jari kelingking, seharusnya setiap kuku memiliki bentuk bulan sabit pada kuku jarinya. Pada kuku ibu jari, seharusnya luas bulan sabit menempati kira-kira seperempat sampai seperlima bagian dari seluruh kuku ibu jari. Selain jari kelingking, luas bulan sabit pada kuku jari lainnya tidak melebihi seperlima bagian. Bila kuku jari tidak nampak bentuk bulan sabit atau hanya terdapat pada kuku ibu jari, ini artinya dalam tubuh mengendap Qi dingin yang cukup berat, Qi Xie tidak memadai, sehingga darah tidak bisa mencapai ujung jari, bila luas bulan sabit terlalu besar, maka mudah menderita hipertiroid, hipertensi, dan lain-lain.

9. Mengamati kerut membujur pada kuku jari :

Kondisi ini hanya terjadi pada orang dewasa, anak kecil tidak pernah ada. Perlu diwaspasai bila muncul kerutan membujur pada kuku orang dewasa. Ini menunjukkan bahwa qi xie dalam tubuh sangat kurang. Diumpamakan menarik cek lebih dari uang simpaman, melambangkan tubuh sudah tua dan lemah.

10. Mengamati gusi

Pada anak kecil, kondisi tersebut tidak jelas, terjadi pada orang dewasa. Gusi mengerut menandakan kekurangan Qi Xie. Bila jarak antar gigi melebar, makanan akan makin mudah menyisip diantara gigi. Ini perlu perhatian. Kesehatan tubuh sudah menurun, proses penuaan sedang dipercepat.

11. Mengamati keadaan tidur

Bila orang dewasa mudah tertidur, nyenyak, napas teratur, dan begitu tertidur tidak bangun-bangun sampai saatnya bangun secara alami seperti pada anak kecil, ini menandakan Qi Xie sangat baik. Sebaliknya, bila sulit tidur, mudah terkejut, mudah terbangun, sering merasa ingin kencing selama tidur, suara napas besar, atau mendengkur, menandakan xie sangat kurang.

12. Mengamati saat berolah raga:

Saat berolah raga, bila nafas terasa pengap, pendek, sulit pulih dari keadaan capai, menandakan Qi Xie kurang. Bila setelah olah raga penuh semangat, sekujur tubuh ringan, ini menandakan keadaan yang sangat baik.

Seorang dokter tradisional China yang memiliki keahlian dapat menilai dengan cepat dan menemukan masalah yang terjadi pada penderita. Pemeriksaan melalui pengamatan tubuh merupakan bagian utama dari empat pemeriksaan yang dilakukan pada pengobatan tradisional China. Inilah yang membedakan dan membuat orang-orang merasakan keajaiban pengobatan tradisional China.

Saat memasuki ruang praktek, sebelum Anda duduk berkonsultasi dengan dokter, umumnya dokter tersebut telah sangat lama mengamati Anda. Maka setelah Anda duduk, dokter dapat menunjukkan banyak hal kurang enak yang telah Anda alami.

Menurut 12 macam cara di atas, sedikitnya 5 macam cara dapat diketahui oleh orang lain di saat anda tidak merasakannya. Anda dapat memeriksa diri sendiri. Inti pemahaman dan jiwa pokok dari pengobatan tradisional China adalah “mengambil tindakan pencegahan sebelum sakit.” Bukan setelah sakit parah baru diobati, bila Anda telah mendeteksi secara dini hal-hal kecil tersebut, Anda dapat mencegah sebelumnya.

Sama halnya, Anda dapat mencegah gejala kanker atau penyakit kritis lainnya sebelum terjadi. Penyakit yang parah selalu terjadi akibat akumulasi dari banyak penyakit ringan. Jangan sampai terlambat ketika penyakit mulai membesar dan parah. Kendalikan di saat penyakit masih dalam tahap ringan.

Hanya dengan 12 macam cara, sudah dapat mengajak Anda mencari jejak atau mendapatkan sumber penyakit secara dini, mengapa tidak digunakan?


Jumat, 29 Oktober 2010

Legenda Perjalanan Chang E Menuju Bulan

“Chang E (Putri Bulan) Menuju Bulan, sebuah legenda kuno prasejarah. Memiliki peran penting dalam membentuk kebudayaan warisan dewata di China.”

Salah satu adegan tarian Chang E Menuju Bulan yang dipersembahkan  oleh Shen Yun Performing Arts 2008, telah mewujudkan kembali makna  legenda yang sesungguhnya kepada manusia. (INTERNET)
Salah satu adegan tarian Chang E Menuju Bulan yang dipersembahkan oleh Shen Yun Performing Arts 2008, telah mewujudkan kembali makna legenda yang sesungguhnya kepada manusia.

Di dalam proses pewarisan sejarah yang begitu panjang, tak dapat dihindari terkontaminasi banyak konsep duniawi dan perasaan manusia (selanjutnya disebut: emosi). Tarian Chang E Menuju Bulan yang dipentaskan Shen Yun Performing Arts pada 2008 lalu, secara nyata telah mewujudkan lagi kisah yang sebenarnya.

Begitu tarian dimulai, adegan yang ditampilkan Ratu Barat (Dewi penguasa Negara Barat di dalam mitologi China kuno) sedang memberikan hadiah berupa ramuan ajaib kepada suami istri Hou Yi. Tentu saja, setelah mereka memperoleh pil yang konon bisa melepaskan diri dari lautan penderitaan, meluap kegembiraannya. Lantas kapan dapat terbang ke langit sehabis meminum ramuan tersebut? Hanya pada saat bencana besar tiba. Selama masa penantian itu, yang mereka lakukan hanyalah berkultivasi (= orang yang mematut diri dengan ketat terhadap prinsip alam semesta).

Bencana akbar itu benar-benar tiba, di langit muncul 9 matahari. Langit dan bumi berubah warna, pepohonan dan rerumputan begitu tunas sudah langsung lunglai, masyarakat terjerumus di lembah kesengsaraan dan menggelepar bak dipanggang api. Dalam menghadapi bencana itu, Chang E telah meminum separuh ramuan ajaib tersebut. Tatkala sisanya diberikan kepada Hou Yi, secara tak sengaja botol berisi sisa ramuan tersebut terjatuh dari tangan Hou Yi. Kedua orang itu sangat panik, mereka tahu ramuan yang tertumpah tersebut menandakan perpisahan mereka sebagai suami-istri, juga menandakan Hou Yi bakal masih harus bereinkarnasi di dunia fana.

Sebelum Hou Yi menumpahkan botol pusaka itu, ia telah bersumpah memanah jatuh para “matahari beracun” tersebut demi rakyat. Ia tidak menyesali ramuan tersebut, melainkan pergi menjelajahi hutan belantara dan pegunungan guna menuntut ilmu sakti agar dapat memanah jatuh “matahari beracun”.

Singkat cerita, setelah Hou Yi berhasil memperoleh busur dan anak panah sakti, dalam satu kali gebrakan ia berhasil memanah jatuh 8 matahari. Ketika hendak memanah jatuh yang ke-9, matahari terakhir, Chang E mencegahnya dan meminta membiarkan matahari terakhir itu untuk menyinari bumi, agar segenap makhluk hidup memperoleh sumber cahaya untuk pertumbuhan.

Manusia di bumi telah terselamatkan, misi Hou Yi selesai sudah. Saat itu, Chang E yang telah meminum ramuan ajaib tak dapat lagi tinggal di dunia manusia. Pada suatu malam yang sunyi dan indah, dengan dipenuhi perasaan pedih mendalam, Chang E terbang menuju Istana Bulan.

Di dalam proses Hou Yi mencari keberadaan Chang E, dalam duka dan nestapa, ia sungguh sangat tidak menginginkan sang istri pergi meninggalkannya. Ketika ia menemukan Chang E yang sedang terbang menjauh, kesedihan memenuhi dada dan di bawah tekanan emosi yang menyengsarakan, ia terjatuh. Jarinya menunjuk ke arah terbangnya Chang E, mengekspresikan pahit getir perpisahan yang harus ia tanggung.

Tarian Chang E Menuju Bulan sangat menyentuh hati para penonton, ada keberanian seorang pahlawan penyelamat manusia yang sedang dirundung bencana, ada cinta mendalam sepasang suami-istri, ada kesulitan dan rasa bersyukur insan manusia, ada anugerah dan pengayoman sang Pencipta, juga ada kepedihan perpisahan suami-istri. Namun, makna mendalam legenda tersebut tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah Ratu Barat menghadiahi ramuan ajaib, barulah Hou Yi ceroboh menjatuhkannya. Ratu Barat tentu mengetahui bencana besar yang bakal dihadapi manusia di dunia, yang Ia selamatkan adalah manusia pilihanNya. Dalam poin ini mirip dengan prinsip Taoisme, dalam hal “Guru memilih murid”. Manusia pilihan tersebut berbakat dasar baik dan memiliki takdir pertemuan yang mendalam dengan sang guru. Akan tetapi, hubungan yang jauh lebih mendalam, tidak mampu terdeteksi Ratu Barat.

Bencana di dunia manusia pasti sudah ditakdirkan, manusia di dunia fana sebetulnya juga bukan demi menjadi manusia. Tingkatan asal mula sebagian orang di dunia ini sangat tinggi, tujuan mereka turun ke dunia sebetulnya demi berkultivasi, sekaligus bertugas mencipta berbagai kebudayaan yang dibutuhkan umat manusia, tentu saja termasuk menggunakan bencana di dunia untuk mencipta dan mewariskan kebudayaan.

Seperti Hou Yi memanah matahari, ini bukan sembarang orang hendak melakukannya lantas dapat dilakukan. Bisa dikatakan, Hou Yi memanah matahari merupakan misi yang diberikan sang Pencipta kepadanya, juga merupakan perjanjian dengan sang Pencipta sebelum kedatangannya ke dunia. Ia bukan saja harus memanah matahari, juga harus menahan derita perpisahan dengan sang istri. Jika tidak, tiada lagi kepiluan dan kesepian yang menyertai terbangnya Chang E ke bulan. Tiada kesenyapan dan kesebatang-karaan di Istana Guang Han (Istana Dingin nan Luas), maka tiada lagi makna yang lebih mendalam tatkala sang rembulan dilantunkan kaum sastrawan yang muncul sesudahnya. Boleh dibilang, pernikahan dan perpisahan sepasang suami-istri tersebut sudah merupakan takdir.

Maka dari itu, lantas terjadi pengaturan yakni sewaktu bencana datang menghampiri, Chang E meminum ramuan ajaib dan Hou Yi menjatuhkannya. Kita tentu tidak dapat berdasarkan kejadian tersebut memvonis Chang E egoistis. Ketika Hou Yi siap membidik matahari terakhir, Chang E yang mencegahnya.

Chang E bukan seorang kultivator tanpa cela, di saat terpaksa meninggalkan dunia manusia, sempat merasa pilu lantaran kehilangan suami. Barangkali kesunyian di Istana Bulan memberikan suasana bertahap menempa diri sehingga akhirnya berhasil memutus takdir perasaan. Karena Istana Bulan hanyalah perwujudan sebuah dimensi tertentu dari selapis langit, semuanya masih berada di dalam Triloka, sedikit banyak masih memiliki perasaan manusia.

Perasaan Hou Yi terhadap istrinya juga cukup berat, di akhir cerita diekspresikan dengan sangat menyentuh. Apabila suami-istri ini terbang bersama ke Istana Bulan, di mata orang awam tentu saja merupakan sebuah akhir cerita yang agak sempurna. Akan tetapi, lantas bagaimana bisa melanjutkan peningkatan kultivasi mereka masing-masing? Dilihat dari sudut pandang itu, perpisahan keduanya adalah pasti.

Tentu sebuah pengaturan kejadian tidak dapat dilihat dari satu sudut pandang saja, permasalahan yang berkaitan sangat banyak. Bagaimanapun juga ini kebudayaan yang hendak diwariskan sang Pencipta kepada manusia. Hendak membuatnya menjadi mitologi yang diteruskan dari generasi ke generasi, juga dipastikan memiliki makna yang sudah ditentukan. Mitologi semacam ini pada taraf agak luas, mempengaruhi interpretasi kebudayaan China di kemudian hari.

Hou Yi sebagai jiwa dari lapisan tinggi alam semesta datang ke dunia fana. Misinya bukan hanya mencipta sebuah kebudayaan saja (tradisi Perayaan Bulan Purnama Tiongjiu yang tahun ini jatuh pada 28 September lalu). Ia turun ke dunia fana, maka harus bereinkarnasi di dalam dunia manusia.

Di dalam reinkarnasi yang berlangsung bermasa-masa, boleh dibilang, setiap masa juga pasti terdapat pengaturan khusus mengenai dirinya. Sedangkan reinkarnasi hanyalah suatu bentuk eksistensi di dunia fana bagi jiwa. Ia di dalam misteri jiwa itu, sedang menanti melakukan peristiwa yang lebih besar tentang umat manusia. Apabila Hou Yi (secepat itu) kembali ke khayangan, termasuk para tokoh di dalam dongeng mitologi lainnya, seusai sempurna berkultivasi dan kembali ke kerajaaan surga mereka, bagaimana mungkin dapat menyelesaikan sumpah besar yang mereka ikrarkan sebelum turun ke dunia fana?

Dari sudut pandang ini dikatakan, para jiwa yang menempuh marabahaya turun ke dunia dan telah meninggalkan jasa penuh kemuliaan sekaligus mencipta serta memperkaya khasanah kebudayaan umat manusia juga mengakumulasi berkah kewibawaan bagi dirinya sendiri. Maka, apakah hal terbesar umat manusia zaman sekarang? Dimana seluruh umat manusia menuju bencana akhir, yaitu situasi perkembangan manusia sudah menemui jalan buntu, seluruh alam semesta dengan sendirinya termasuk umat manusia berada dalam situasi genting. Saat ini, dipastikan terdapat kehadiran juru selamat besar yang turun ke dunia fana demi menyelamatkan umat manusia.

Sedangkan manusia yang berkoordinasi mengerjakan segala sesuatu (dari proyek) ini, merupakan jiwa-jiwa tingkat tinggi pada zaman pra sejarah yang silam. Berasal dari ketinggian tertentu alam semesta dan turun ke dunia manusia. Tujuan mereka turun ke bumi, selain untuk berkultivasi di dunia manusia, juga ada yang memiliki misi penyelamatan seluruh umat manusia pada masa akhir zaman. Dilihat dari sudut pandang ini, makna pekerjaan yang dilakukan orang-orang ini, serupa dengan tindakan heroik penyelamatan Hou Yi terhadap manusia kala itu.

Tentu, cara yang dipakai mereka beraneka ragam, termasuk menggelar makna sesungguhnya Chang E Menuju Bulan dan menggunakan inti sari dari kebudayaan warisan Dewata yang orisinil untuk menggugah sifat hakiki manusia. Ini barulah fakta sesungguhnya tarian Chang E Menuju Bulan dan pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang dipersembahkan kepada manusia di dunia.

Dari sudut pandang ini, makna Chang E Menuju Bulan yang diwariskan ribuan tahun lamanya, juga sedang menggugah manusia. Barangkali, kala itu Hou Yi sedang menggunakan caranya sendiri melakukan penyelamat-an makhluk hidup. Mengapa setelah menonton Chang E Menuju Bulan dan pertunjukan Shen Yun Performing Arts lainnya otomatis sudah berarti sama dengan menyelamatkannya? Tarian ini sekali pentas bisa merasuk ke sanubari manusia, itulah efek tak terelakkan dari kebudayaan warisan Dewata.

Yang dipertontonkan dan dipentaskan Shen Yun Performing Arts merupakan kebudayaan warisan Dewata Tionghoa sesungguhnya. Banyak orang usai menikmati pertunjukan Shen Yun Performing Arts telah tersadarkan. Tergugahnya mereka menandakan penyelamatan mereka!

Ketika mereka benar-benar memahami kandungan makna Chang E Menuju Bulan, mereka telah memahami fakta sesungguhnya dari jiwa. Bisa saja sesaat itu mereka masih belum jelas benar arah tujuannya, namun di dalam hati mereka benar-benar telah memahami penyelamatan sang Pencipta terhadap manusia di dunia. (The Epoch Times/whs)

Rokok Produk Cina 3 Kali Lebih Berbahaya

Konferensi Asia Pasifik Untuk Kesehatan atau Tembakau ke-9 yang digelar di Sydney (8/10) lalu, mengungkap penelitian perbandingan terhadap produk tembakau dari China dengan negara lain. Hasilnya, 13 merek rokok lintingan produksi China terdeteksi mengandung logam berat, yang tertinggi bahkan mencapai 3 kali lipat lebih dari rokok buatan Kanada.

Penelitian menyatakan: 13 merek rokok produksi China terdeteksi  mengandung logam berat. Foto: sebuah gerai yang menjual rokok di China.   (GETTY IMAGES)
Penelitian menyatakan: 13 merek rokok produksi China terdeteksi mengandung logam berat. Foto: sebuah gerai yang menjual rokok di China.

13 merek rokok China tersebut: Da Qian Men, Hong Ta Shan, Hong Mei, Bai Sha, Du Bao, Hong Shuang Xi, Huang Jin Ye, Happiness (Ji Qin), Hong He, Hong Jin Long, Hong Qi Qu, Shi Lin, Yi Zhi Bi.

Para peneliti memilih rokok dari Kanada untuk dibandingkan dengan rokok China.Tembakau rokok China mengandung timah, arsenik, kadmium serta logam berat lainnya. Hukum Kanada menetapkan produsen dan pengimpor tembakau harus memeriksa kandungan logam berat dalam tembakau produksinya. Depkes Kanada baru-baru ini mengungkap angka-angka terkait.

Proyek kebijakan pengendalian tembakau internasional ini melibatkan 80 jenis lebih penelitian terhadap pengawasan tembakau. Para peneliti berasal dari 20 negara, termasuk China, AS, Kanada, Australia dan lain-lain. Misi utamanya mengevaluasi pengaruh “Kerangka Perjanjian Pengawasan Rokok dan Tembakau” yang dicanangkan WHO terhadap kebijakan pengendalian rokok.

Menurut Reuters, Richard O’Connor dari Pusat Riset Kanker Roosevelt Parker, New York, dalam tesisnya mengungkapkan: pihaknya telah mensurvei kandungan logam berat pada setiap batang rokok. Alasannya tembakau dapat membuat ketagihan, dan perokok menghabiskan rata-rata 20 batang rokok per hari selama bertahun-tahun.

Ia mengungkapkan logam berat dan zat beracun lainnya yang dihirup perokok secara bersamaan, serta efek akumulatif jangka panjang yang timbul akibat reaksinya dengan berbagai zat beracun lainnya. Ia berpendapat, masalah kesehatan ini harus diteliti dengan saksama. Rokok mengandung zat yang mematikan, intervensi tegas terhadap produk tembakau sangat mendesak untuk segera dilakukan, dan harus mematuhi semua aturan dalam “kerangka kesepakatan bersama pengawasan rokok dan tembakau” yang dibuat WHO.

Pakar berpendapat, pemahaman rakyat China terhadap bahaya tembakau sangat minim, dan jika tidak diambil tindakan efektif, China akan terjerumus ke dalam suatu bencana kesehatan yang belum pernah ada sebelumnya. Sebagai negara pencetus “kerangka kesepakatan pengawasan rokok dan tembakau”, China harus mengambil tindakan tegas untuk melindungi warganya dari ancaman bahaya rokok.

Menurut kantor berita Xinhua, wakil kepala Biro Penjualan Rokok Nasional, Jin Zhongli, berpendapat bahwa tekstur tanah di berbagai wilayah di China berbeda. Tidak hanya tembakau, logam berat di dalam sayuran dan bahan pangan lainnya berbeda. Kandungan logam berat dalam tanah pada sejumlah wilayah di China mungkin lebih tinggi, sehingga tembakau yang dihasilkan juga mengandung logam berat cukup tinggi.

Saat ini China belum membuat standarisasi kandungan logam berat hasil produk jadi rokok, yang ada hanya pembatasan pada bahan baku, seperti aturan kandungan logam berat pada kertas rokok tidak boleh melampaui jumlah tertentu.

Pakar juga mengatakan bahwa, merokok dapat mengakibatkan keracunan logam berat, karena rokok dibakar dengan suhu tinggi yang dapat mengakibatkan logam berat berubah menjadi gas. Perokok lalu menghirup asap rokok yang mengandung logam berat tersebut, oleh karena itu kadar logam berat yang masuk ke dalam tubuh jauh lebih tinggi daripada biasanya.

Menurut data statistik 2008, perokok China sudah mencapai 350 juta jiwa, angka kematian yang berhubungan dengan rokok setiap tahunnya mencapai sekitar 1 juta jiwa, dan jika jumlah perokok tidak berubah, maka sebelum 2020 jumlah kematian akan bertambah menjadi 2,2 juta jiwa.

Topik Konferensi ini mengenai “Perubahan, Tantangan, dan Perkembangan Kerangka Kesepakatan Pengawasan Rokok di Asia Pasifik”. Sebanyak 600 lebih peserta dari 40 lebih negara, hadir dalam konferensi ini.

Senin, 23 Agustus 2010

Meng Jiang

Putri Meng Jiang dikabarkan pernah hidup pada 2.200 tahun yang lalu semasa dinasti Qin. Keberadaannya telah menjadi legenda dimasyarakat hingga kini, berikut kisahnya :
Sebuah keluarga yang bermarga Meng suatu ketika menanam labu manis disepanjang pagar rumahnya. Tumbuhan tersebut tumbuh dengan pesat dan merambat melewati pagar pembatas yang bersebelahan dengan keluarga bermarga Jiang. Sebuah labu manis besar tumbuh didekat pagar tersebut, saat keluarga Meng membelah labu itu, tiba-tiba muncul seorang gadis cilik dari dalam labu.

Gadis cilik ini kemudian bernama putri Meng Jiang. Dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik laksana dewi kayangan, dia juga terkenal ramah dan cerdas, piawai dalam membuat puisi dan bermain musik serta mendalami nilai-nilai Konfusius. Pasangan tua Meng memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.

Kaisar pertama dinasti Qin sangat kejam dan lalim. Demi mempertahankan keutuhan dinasti yang baru tumbuh ini, dia memerintahkan ratusan pemuda bekerja sebagai budak untuk membangun Tembok Besar disisi utara tanpa memperdulikan keselamatan jiwa mereka. Banyak pemuda yang meninggal karena kelelahan.

Tersebutlah seorang pelajar bernama Wan Xiliang yang melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari kerja paksa tersebut, dia bersembunyi dihalaman belakang keluarga Meng. Tanpa sengaja Putri Meng Jiang menemukannya, dan memberitahu ayahnya. Ayah putri Meng adalah orang yang berhati baik, beliau memutuskan untuk menolong Wan menghindar dari pemerintah.
Selama dalam persembunyiannya dirumah Meng, keluarga Meng akhirnya mengenal dan menyadari bahwa Wan Xiliang adalah seorang pelajar yang cerdas dan baik budi, sehingga mereka menjodohkannya dengan puri Meng Jiang.

Tiga hari setelah perkawinan secara sembunyi-sembunyi mereka, sekelompok petugas pemerintah menggeledah rumah keluarga Meng dan membawa pergi Wan Xiliang. Putri Meng Jiang tahu kalau suaminya akan dijadikan budak pembangunan Tembok Besar. Setahun lamanya dia menunggu, airmata seringkali membasahi bantalnya. Namun tak ada kabar berita dari sang suami. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari suaminya. Namun seberapa jauhkah Tembok Besar itu ? Setelah berjalan kaki berhari-hari lamanya, putri Meng Jiang bertanya kepada seorang kakek tua. Kakek itu menjawab, “Ada suatu tempat yang sangat jauh bernama propinsi You ; Tembok Besar itu ada jauh disebelah utaranya.”

Selama dalam perjalanan putri Meng Jiang mengalami banyak penderitaan. Dia berjalan seharian dan bermalam dimanapun dia berhenti. Dia makan roti dingin dan minum air dari sungai yang dia jumpai. Seringkali dia kelelahan dan kedinginan, namun dia tetap melanjutkan perjalanan, tak peduli hujan dan terik mentari, tanah lapang ataupun pegunungan berbatu. Seringkali dia dibantu oleh beberapa keluarga yang ditemui selama perjalanannya.

Akhirnya putri Meng Jiang tiba di Tembok Besar pada suatu hari musim gugur yang dingin. Hatinya tersayat saat melihat para pekerja membawa muatan yang berat dibawah pengawasan penjaga. Dia lalu bertanya kepada orang-orang dimana suaminya Wan Xiliang berada, namun yang didapat hanyalah kabar suaminya telah meninggal beberapa hari setelah ditangkap. Tubuhnya dikubur dibawah Tembok Besar.

Seketika putri Meng Jiang terguncang oleh kesedihan yang teramat dalam ; dia menangis dan menangis diatas Tembok Besar tersebut, airmatanya mengalir bagaikan sungai. Dia memukul-mukul Tembok Besar itu, menyesali kematian suami dan takdir dirinya. Tangisannya membuat trenyuh para pekerja dan penjaga, sehingga menghentikan pekerjaan mereka dan ikut mencucurkan airmata bersamanya. Langit menjadi gelap dan angin dingin musim gugur menjadi lebih menyengat seperti ikut berduka.
Tiba-tiba sebuah dentuman keras memecah keheningan, sebagian Tembok Besar runtuh, memperlihatkan sisa-sisa tubuh pekerja yang terkubur dibawahnya. Melihat tulang belulang itu, putri Meng Jiang berpikir bagaimana dia dapat mengenali milik suaminya. Kemudian dia teringat perkataan orang kuno bahwa tulang orang yang meninggal hanya dapat menyerap darah anggota keluarganya. Dia lalu menggores ujung jarinya dan membiarkan darahnya jatuh mengucuri tulang belulang itu. Akhirnya dia menemukan tulang belulang suaminya, lagipula dia mengenali kancing baju yang pernah dia jahit untuknya. Putri Meng Jiang mengubur mayat suaminya menurut ritual layaknya sorang istri yang sangat mencintai suaminya.

Menurut legenda, bagian Tembok Besar yang runtuh akibat airmata putri Meng Jiang tidak pernah dibangun lagi (jika dibangun kembali akan segera runtuh). Kisah putri Meng Jiang menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tiongkok dari generasi ke generasi. Kuil persembahan putri Meng Jiang berdiri pertama kali pada waktu dinasti Song, kira-kira 1000 tahun yang lalu, terus terpelihara dan disembah dari permulaan berdirinya Tembok Besar hingga hari ini didaerah Timur.


Jumat, 20 Agustus 2010

Lu Bu, Prajurit Paling Berani Dalam Kekaisaran




Lü Bu (153 – 198), nama lengkap Lü Fengxian, lahir di Wuyuan (sekarang di wilayah Mongolia Dalam) adalah seorang jenderal terkenal dari penghujung zaman Dinasti Han dan Tiga Negara.Lu Bu dengan ciri khas memakai penutup kepala dengan ekor, ia memiliki kuda yang sangat sakti bernama red hare

Ia walaupun sangat lihai bertarung, namun juga adalah seorang yang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya. Lü Bu pertama kali mengabdi kepada Ding Yuan, yang kemudian berkomplot bersama He Jin untuk membunuh para menteri istana sepeninggal Kaisar Lingdi dan naik pangkat menjadi letnan jenderal.

Lü Bu kemudian termakan hasutan Dong Zhuo untuk membunuh Ding Yuan. Setelah Dong Zhuo mengangkat diri sebagai perdana menteri, ia kemudian menjadikan Lü Bu sebagai anak angkatnya dan panglima perang kekaisaran. Karena sifat Dong Zhuo yang tidak sabar dan bertemperamen kasar, Lü Bu akhirnya membunuh Dong Zhuo setelah dihasut oleh salah satu menteri istana, Wang Yun. Setelah kematian Dong Zhuo, Lü Bu lalu diangkat sebagai panglima besar kekaisaran. Di dalam catatan sejarah, Lü Bu diceritakan menjalin hubungan gelap dengan seorang dayang-dayang Dong Zhuo yang tidak disebutkan namanya. Di dalam Kisah Tiga Negara, karakter ini menjadi Diao Chan, yang juga diangkat sebagai anak oleh Dong Zhuo.

Hanya sebulan setelah kematian Dong Zhuo, bawahannya, Li Jue memimpin pasukan menyerang dan mengusir Lü Bu dari ibukota. Lü Bu kemudian melarikan diri dalam pengasingan, mencari perlindungan kepada Yuan Shu, yang menolak untuk menerimanya, lalu Yuan Shao, Zhang Miao dan Liu Bei.

Kematian Lu Bu

Ia akhirnya menyusun kekuatan di Xiapi, di mana ia sering terlibat pertempuran dengan Cao Cao. Tahun 198, Cao Cao menyerang Xiapi dan memukul mundur pasukan Lü Bu terus menerus serta akhirnya mengepung pasukan Lü Bu selama 3 bulan. Lü Bu dengan moral pasukan yang rendah diperparah dengan pengkhianatan bawahannya, Hou Cheng, Song Xian dan Wei Xu. Lü Bu tertangkap oleh Cao Cao dan memohon kepadanya agar melepaskannya. Namun Liu Bei mengingatkan Cao Cao bahwa Lü Bu tidak dapat dipercaya dan membiarkannya hidup sangat berbahaya. Lü Bu kemudian dicekik sampai mati oleh Cao Cao.


Kamis, 19 Agustus 2010

Hakim Bao

Bao Zheng (999-1062) adalah seorang hakim dan negarawan terkenal pada jaman Dinasti Song Utara. Karena kejujurannya dia mendapat julukan Bao Qingtian yang berarti Bao si langit biru, sebuah nama pujian bagi pejabat bersih. Musuh-musuhnya menjulukinya Bao Heizi yang artinya si hitam Bao karena warna kulitnya yang gelap. Nama kehormatannya adalah Xiren.

Tuntungan Blog is loading..

Bao dilahirkan dalam keluarga sarjana di Luzhou (sekarang Hefei, provinsi Anhui). Kehidupan awalnya banyak mempengaruhi kepribadiannya. Orang tuanya walaupun hidup pas-pasan, namun masih sanggup menyekolahkannya dengan baik. Ketika sedang mengandungnya, ibunya sering turun naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar. Di kampungnya dia banyak berteman dengan rakyat jelata sehingga dia mengerti beban hidup dan masalah mereka. Hal ini membuatnya membenci korupsi dan bertekad untuk menegakkan keadilan dan kejujuran. Orang yang berpengaruh besar pada kehidupannya adalah Liu Yun, seorang pejabat kehakiman di Luzhou, seorang pejabat yang ahli dalam puisi dan literatur serta adil dan membenci kejahatan. Dia juga seorang yang menghargai intelektual dan bakat Bao. Di bawah pengaruh Liu, Bao bertekad untuk memberikan kesetiaannya terhadap kerajaan dan cintanya pada negara dan rakyat.

Tuntungan Blog is loading..

Pada usia 29 tahun, dia lulus ujian kerajaan tingkat tertinggi dibawah pengujian langsung dari kaisar hingga menyandang gelar Jinshi. Sesuai hukum dan peraturan saat itu yang mengatakan bahwa seorang sarjana Jinshi dapat ditunjuk menempati posisi penting dalam pemerintahan, maka Bao diangkat sebagai pejabat kehakiman mengepalai Kabupaten Jianchang. Namun dia mengundurkan diri tak lama kemudian karena sebagai anak berbakti dia memilih pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah tua dan lemah selama sepuluh tahun. Baru setelah kematian orang tuanya, dia kembali diangkat sebagai pejabat, kali ini sebagai pejabat kehakiman Provinsi Tianchang. Ketika itu dia telah berumur 40 tahun.

Tuntungan Blog is loading..

Sebagai pejabat, Bao bekerja dengan adil, berani, dan berpegang pada kebenaran. Kecerdasan dan bakatnya membuat banyak orang kagum, termasuk Kaisar Song Renzong yang mempromosikannya dan memberikannya jabatan penting termasuk sebagai hakim di Bian (sekarang Kaifeng), ibukota Dinasti Song. Dia terkenal karena pendiriannya yang tak kenal kompromi terhadap korupsi diantara pejabat pemerintahan saat itu. Dia menegakkan keadilan bahkan menolak untuk tunduk pada kekuasaan yang lebih tinggi darinya bila itu tidak benar termasuk pada Guru Besar Pang, ayah mertua kaisar yang merangkap guru besar yang membimbing putra mahkota sehingga Pang sangat menganggap Bao sebagai musuhnya.

Tuntungan Blog is loading..

Sejarah mencatat bahwa selama kurang lebih 30 tahun sejak dia memegang jabatan pertama kalinya, sebanyak lebih dari 30 orang pejabat tinggi termasuk beberapa mentri telah dipecat atau diturunkan pangkatnya olehnya atas tuduhan korupsi, kolusi, melalaikan tugas, dan lain-lain. Dia sangat berpegang teguh pada pendiriannya dan tidak akan menyerah selama dianggapnya sesuai kebenaran. Enam kali dia melaporkan pada kaisar dan memintanya agar memecat pejabat tinggi, Zhang Yaozhuo, paman dari selir kelas atas kerajaan, tujuh kali untuk memecat Wang Kui, pejabat tinggi lain yang kepercayaan kaisar, bahkan dia pernah beberapa kali membujuk kaisar untuk memecat perdana mentri Song Yang. Dalam kapasitasnya sebagai juru sensor kerajaan dia selalu sukses meyakinkan kaisar tanpa membawa kesulitan bagi dirinya, padahal dalam sejarah banyak juru sensor telah mengalami nasib yang buruk, seperti misalnya Sima Qian, sejarawan dan filsuf Dinasti Han yang dikebiri karena Kaisar Han Wudi tidak bisa menerima pendapatnya.

Tuntungan Blog is loading..

Dalam pemerintahan, teman dekatnya adalah paman kaisar yaitu Zhao Defang yang lebih dikenal dengan nama pangeran ke delapan (Ba Wang Ye). Di kalangan rakyat, Bao Zheng dikenal sebagai hakim yang adil dan berani memutuskan segala sesuatu berdasarkan keadilan tanpa rasa takut, juga mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Baginya siapapun termasuk kerabat dekat kaisar sekalipun harus dihukum bila terbukti bersalah melakukan pelanggaran. Bao meninggal tahun 1062 dan dimakamkan di makam keluarganya di Hefei, di kota itu juga dibangun kuil untuk mengenangnya.

Tuntungan Blog is loading..

Bao Zheng banyak menghiasi karya literatur dalam sejarah Tiongkok, kisah hidupnya yang melegenda sering ditampilkan dalam opera dan drama, kebanyakan kisah-kisah ini didramatisasi. Dalam opera biasanya dia digambarkan sebagai pria berjenggot dengan wajah hitam dan tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahinya (beberapa versi menyebutkan tanda ini berasal dari luka ketika dia memberi hormat dengan sangat keras pada ibunya untuk menunjukkan baktinya).

Tuntungan Blog is loading..

Disebutkan juga bahwa kaisar menganugerahi Bao tiga gilotin (alat penggal) dalam tugasnya sebagai hakim. Ketiga gilotin itu mempunyai dekorasi yang berbeda dan digunakan untuk menghukum orang sesuai statusnya. Guilotine kepala anjing untuk menghukum rakyat jelata, kepala macan untuk menghukum pejabat korup, dan kepala naga untuk menghukum bangsawan jahat. Dia juga dianugerahi tongkat emas kerajaan oleh kaisar sebelumnya untuk menghukum kaisar sendiri bila bersalah dan pedang pusaka kerajaan sebagai tanda berhak untuk menghukum siapapun termasuk anggota kerajaan tanpa melapor atau mendapat persetujuan dulu dari kaisar. Dalam tugasnya dia dibantu oleh enam deputinya yaitu polisi Zhan Zhao, sekretaris Gongsun Zhi, dan empat pengawal Wang Chao, Ma Han, Zhang Long, dan Zhao Hu. Selain itu juga lima pendekar dari dunia persilatan yang dijuluki lima pendekar tikus. Keduabelas orang ini disebut “tujuh pendekar lima ksatria”


Rabu, 18 Agustus 2010

Legenda Kisah Cinta Sam Pek dan Eng Tay

Pada jaman dahulu kala di negeri Cina tepatnya di propinsi Zhejiang hiduplah keluarga Zhu. Mereka termasuk keluarga kaya dan terpandang di daerah tersebut. Keluarga Zhu mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Cuk Eng Tay. Sebagai anak perempuan, Eng Tay tidak boleh sering keluar rumah. Hal itu selalu membuatnya bosan. Dia ingin sekali pergi bersekolah seperti anak laki-laki. Berulang kali Eng Tay membujuk ayahnya untuk mengijinkannya pergi sekolah, namun ayahnya selalu menolak dengan tegas.



Suatu hari dia mendapat sebuah ide. Eng Tay mengurung diri di kamar dan berpura-pura sakit. Tuan Zhu yang khawatir dengan kesehatan putri tunggalnya menyetujui usul Lin Ce, pengasuh putrinya, untuk memanggil seorang peramal.
"Tuan, saya sarankan anda untuk mengirim putri anda ke sekolah di luar kota, maka dia akan sembuh," kata si peramal.
"Apa? Tidak mungkin aku mengirim anak perempuanku bersekolah. Tak ada seorang gadis pun di sana!" kata Tuan Zhu gusar.

Tiba-tiba peramal itu menyingkap tutup kepala dan jubahnya. Tuan Zhu terkejut karena peramal itu tidak lain adalah Eng Tay.
"Ayah, kalo aku berpakaian seperti laki-laki, bolehkah aku pergi ke sekolah? Tidak akan ada yang menyangka bahwa aku seorang gadis," bujuk Eng Tay.
Akhirnya dengan berat hati Tuan zhu mengijinkan Eng Tay untuk pergi bersekolah.

Pada hari yang ditentukan dengan ditemani Lin Ce yang setia, Eng Tay berangkat ke sekolah Sung Yee. Tentu saja dengan menyamar sebagai laki-laki. Di tengah perjalanan Eng Tay bertemu dengan seorang pemuda yang juga akan pergi ke Sung Yee. Mereka pun berkenalan dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Pemuda itu bernama Liang Sam Pek dan berasal dari Guiji. Mereka pun menjadi akrab dan berjanji untuk saling menjaga. Sam Pek menganggap Eng Tay sebagai adik dan demikian sebaliknya Eng Tay menganggap Sam Pek sebagai kakak.



Di sekolah Eng Tay belajar dengan giat. Dia sangat bersemangat, apalagi kini dia semakin akrab dengan Sam Pek sehingga hari-harinya tidak lagi membosankan. Karena Eng Tay gadis yang serdik, tidak seorang pun mencurigai penyamarannya. Maka Sam Pek pun memperlakukan Eng Tay sebagai adik laki-laki. Padahal Eng Tay ternyata mulai menaruh hati pada Sam Pek.

Tidak terasa bertahun-tahun Eng Tay menghabiskan harinya di Sung Yee. Selama itu dia tidak pernah sekali pun pulang menengok ayahnya. Hanya Lin Ce yang pulang pergi membawa kabar dari Eng Tay dan ayahnya. Suatu hari Lin Ce membawa surat dari rumah yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit keras dan menyuruhnya pulang. Eng Tay bimbang, dia sangat ingin pulang menengok ayahnya namun dia juga takut sekembalinya ke rumah dia tidak akan bisa kembali ke sekolah. Itu artinya Eng Tay tidak bisa bertemu lagi dengan Sam Pek. Kepada Lin Ce dia berterus terang bahwa dia telah jatuh cinta kepada Sam Pek.

Akhirnya Eng Tay dan Lin Ce memutuskan utnuk meminta nasehat kepada guru Eng Tay. Eng Tay berterus terang bahwa dia adalah seorang gadis yang menyamar agar bisa sekolah. Untunglah beliau tidak marah. Eng Tay menitipkan sebuah bandulan kipas kepada guru untuk diberikan kepada Sam Pek.

Dengan berat hati Sam Pek mengantar kepergian Eng Tay. Sebelum berpisah Eng Tay mencoba memberi isyarat kepada Sam Pek bahwa dia adalah seorang gadis, namun Sam Pek tidak mengerti arti isyarat Eng Tay. Akhirnya Eng Tay menyerah dan berkata bahwa dia akan menjodohkan Sam Pek dengan adiknya, maka Sam Pek harus datang menemuinya dan melamarnya.

Setelah ditinggal Eng Tay, Sam Pek merasa kesepian. Akhirnya dia meminta ijin gurunya untuk menjenguk Eng Tay. Guru Sun Yee lalu memberikan bandulan kipas dari Eng Tay kepada Sam Pek dan memberitahukannya bahwa Eng Tay sebenarnya adalah seorang gadis. Sam Pek terkejut mendengarnya. Akhirnya dia mengerti bahwa sebenarnya Eng Tay ingin agar Sam Pek melamar Eng Tay dan bukan adiknya. Dengan hati berbunga-bunga Sam Pek pun berpamitan dan langsung memacu kudanya ke rumah Eng Tay.

Sementara itu Tuan Zhu bermaksud menjodohkan Eng Tay dengan anak keluarga kaya dan berkuasa bernama Ma Wencai. Tentu saja Eng Tay menolaknya dan berterus terang bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih yang akan segera melamarnya. Tuan Zhu sangat marah mendengarnya. Dia tetap memaksa Eng Tay untuk menerima lamaran Ma Wencai dan mengancam akan mencelakakan Sam Pek jika Eng Tay berani menolaknya. Maka Eng Tay pun hanya bisa menangis sedih mendengar keputusan ayahnya.

Beberapa hari kemudian Sam Pek sampai di rumah Eng Tay. Setelah memohon pada ayahnya, akhirnya Eng Tay bisa menemui Sam Pek. Mereka sangat bahagia bisa bertemu lagi. Namun Eng Tay juga bersedih karena ini adalah terakhir kalinya dia bisa menemui Sam Pek. Ketika Sam Pek mengutarakan niatnya untuk mempersunting Eng Tay, Eng Tay pun tak kuasa menahan air matanya.
"Kenapa kau kelihatan menangis, adik Eng Tay? Apakah kau tidak suka aku melamarmu?" tanya Sam Pek.
"Aku bahagia kakak Sam Pek. Tapi... ayahku telah menjodohkanku dengan pria lain dan aku tidak bisa menolaknya. Maafkan aku kakak!" tangis Eng Tay.

Sam Pek sangat marah mendengarnya. Dia pikir Eng Tay sudah melupakannya dan tidak ingin menjadi istrinya.
"Jadi kau lebih memilih menjadi istri orang kaya itu daripada aku yang miskin?" kata Sam Pek dengan marah.
"Bukan begitu kakak Sam Pek, ini adalah keinginan ayah dan aku tidak kuasa menolaknya. Mengertilah kakak! Meski aku harus menikah dengan orang lain, cintaku hanya untuk kakak seorang," isak Eng Tay.

Sam Pek tidak mau mendengar perkataan Eng Tay, dengan sedih dia memacu kudanya pulang ke rumahnya. Sam Pek kehilangan semangat hidupnya. Maka dia pun menghabiskan waktunya dengan minum banyak arak hingga lupa makan, lupa tidur. Akhirnya Sam Pek pun jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. Sam Pek pun tidak mau berobat. Baginya hidup sudah tidak berarti lagi.

Ibu Eng Tay sangat sedih melihat keadaan putranya. Maka dengan berlinang air mata dia pergi ke rumah Eng Tay dan memohon kepada Tuan Zhu supaya mengijinkan Eng Tay menemui Sam Pek untuk terakhir kalinya. Namun Tuan Zhu menolaknya. Dengan hati sedih Eng Tay hanya bisa menitipkan sebuah bingkisan berisi puisi-puisi cinta dan segumpal rambutnya.

Sam Pek semakin sedih dan semakin tidak bergairah untuk sembuh. Suatu hari ketika sakitnya semakin parah, dia berpesan kepada ibunya bahwa jika ia meninggal dia ingin dikuburkan di jalan yang akan dilalui oleh iring-iringan pengantin Eng Tay. Beberapa saat kemudian Sam Pek pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Eng Tay pun berduka mendengar kematian kekasihnya. Dia menangis sepanjang hari dan meratapi nasib yang tidak menyatukannya dengan kekasih yang dicintainya.

Tuan Zhu sangat khawatir melihat keadaaan putrinya, maka dia meminta supaya tanggal pernikahan putrinya dipercepat.

Eng Tay lalu memohon kepada ayahnya supaya diijinkan untuk turun sebentar dari tandu pengantin dan mengunjungi makam Sam Pek untuk memberi penghormatan terakhir. Meski tidak setuju tapi akhirnya Tuan Zhu dan keluarga Ma memberi ijin.

Maka ketika iringan pengantin Eng Tay tiba di makam Sam Pek. Eng Tay turun dari tandu dan berlutut di makam kekasihnya. Dengan menangis sedih dia berkata: "Kakak Sam Pek percayalah bahwa cintaku hanya untukmu. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain. Jika kakak mendengarku, bawalah aku pergi bersama kakak!"

Mendadak angin bertiup sangat kencang dan hujan pun turun dengan derasnya. Di tengah suara petir yang menggelegar tiba-tiba makam Sam Pek terbelah dua dan muncullah lubang menganga di depan Eng Tay. Tanpa pikir panjang Eng Tay pun terjun ke dalam lubang tersebut tanpa sempat dicegah oleh para pengiringnya. Kemudian makam tersebut kembali menutup dan Eng Tay pun menghilang.

Suasana kembali cerah seperti tidak pernah ada kejadian apapun. Tinggallah para pengiring yang masih terkejut dengan kejadian tersebut. Hanya Lin Ce yang menangis meratapi kepergian majikannya. Tiba-tiba dari balik makam, muncullah sepasang kupu-kupu yang cantik. Mereka berputar-putar sebentar di kepala Lin Ce sebelum akhirnya terbang jauh dengan gembira. Lin Ce yakin bahwa kupu-kupu itu adalah penjelmaan roh majikannya yang telah bersatu dengan kekasihnya.


Senin, 16 Agustus 2010

Goa Terdalam Di China

Baru-baru ini, sekelompok ekspedisi Inggris datang ke China, selama beberapa bulan mereka berpetualangan, selama perjalanan mereka di sana, mereka secara tidak sengaja menemukan sebuah lubang goa dengan kedalaman 1.026 meter.



Menurut penuturan anggota tim penjelajah, ketika mereka pertama kali melihat goa sedalam itu, semua tercengang, gua yang ditemukan diyakini adalah salah satu goa paling dalam di dunia. Demikian dilaporkan Daily Mail Inggris.



Laporan itu menyebutkan bahwa kelompok penjelajah setelah berjalan melewati banyak bukit dan gunung, akhirnya mereka sampai ke sebuah desa kecil di Tianxin. Di bawah panduan penduduk lokal mereka dibawa ke sebuah goa yang sangat dalam. Menurut hasil penelitian, kedalaman guo tersebut mencapai 3.100 kaki, atau 1.026 meter. Kedalaman tersebut bisa dijajarkan dengan beberapa goa yang sangat dalam di dunia.



Anggota tim penjelajah dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa sepanjang proses pendakian, mereka tidak cukup berani untuk memandang ke bawah. Karena jika memandang ke bawah, lubang yang sangat dalam akan membuat orang pusing, bahkan pendakian gunung yang berpengalaman juga tidak berani untuk merasakan tekanan ketakutan dari ruang panjang dan sempit serta mendalam.



Menurut cerita mereka, seluruh team penjelajah tinggal di China selama beberapa bulan, hanya di desa kecil ini saja mereka sudah menghabiskan waktu dua bulan. Semua anggota tim ekspedisi telah dikejutkan dan dimabukkan oleh pemandangan alam yang fantastis ini. Bersama tim tersebut masih ada seorang fotografer, ia mengambil semua foto secara detail di berbagai tempat di dalam goa, dan telah membuat orang-orang di dunia penasaran untuk melihat pemandangan indah ini.



Tim penjelajah memperkenalkan, sekarang ini, goa tersebut adalah Gou yang paling dalam di China, dan bisa disejajarkan dengan goa terdalam di dunia lainnya. Goa paling dalam adalah Krubera Georgia di Eropa, kedalamannya mencapai 6.822 kaki atau 2.080 mete. Kedua, adalah gua Lamprechtsofen di Austria, kedalamannya 1.631 meter; dan yang ketiga adalah goa Gouffre Mirolda, yang terletak di Prancis, kedalamannya 5.335 kaki atau 1.626 meter.

Yang menarik adalah gunung tertinggi di dunia adalah Mount Everest ketinggiannya 8.848 meter, jika gua-gua ini bisa dibalik, goa tersebut juga dapat bertanding dengan Mount Everest.



Selasa, 20 Juli 2010

Dinasti Tang, Puncak Kejayaan China

Dinasti Tang dianggap sebagai era keemasan dalam sejarah China, masa dimana China menjadi bangsa yang terbesar dan terkuat di dunia. Puncak kejayaan Dinasti Tang merujuk pada masa antara pemerintahan Kaisar Taizong dan Xuanzong. Selama periode ini, China menganut sebuah sistem politik etis dan berkembang pesat di semua aspek termasuk perdagangan, sosial, budaya, dan kesenian.

Kaisar Taizong dari Dinasti Tang menjadi panutan bagi kaisar-kaisar selanjutnya.

Kaisar Taizong (599 - 649 M) dari Dinasti Tang mengangkat orang yang berbudi luhur dan ahli untuk menduduki jabatan-jabatan penting, dan dapat menerima saran serta kritikan dari orang yang mengangkat mereka. Meskipun kedudukan tertinggi adalah seorang kaisar, Taizong sangatlah rendah hati, hormat dan penuh toleransi. Ia bahkan menaikkan pangkat orang yang telah menentangnya. Taizong selalu tekun dan bercita-cita tinggi. Dengan demikian, Ia bukan saja sebagai pendiri Dinasti Tang namun juga berperan sebagai panutan bagi kaisar-kaisar selanjutnya.

Karakter unik Dinasti Tang dapat diringkas menjadi “memiliki pemikiran yang terbuka dan luas, menggabungkan inti dari semua yang ada.” Tepatnya semangat ini lah yang telah menempa suatu budaya yang beragam secara kultural dan menjadi periode terbaik dalam sejarah China.

Sastra dan seni

“Puisi Lengkap Dinasti Tang”, disusun selama era pemerintahan Kaisar Kangxi (Dinasti Qing), adalah koleksi lebih dari 48.000 puisi ditulis oleh lebih dari 2.200 penyair. Jumlah penyair ulung dan keaneka ragaman puisi mereka adalah sebuah bintang gemilang di dalam sejarah kesusastraan China. Puisi-puisi yang ditulis selama era Dinasti Tang bukan hanya berjumlah banyak namun juga mengandung nilai artistik tinggi.

Zaman keemasan Dinasti Tang menghasilkan banyak penyair terkenal seperti “Dewa Penyair” Li Bai (701-762), “Penyair Suci” Du Fu (712-770), Meng Hao-ran (691-740) dan Wang Wei (699–759), dimana keduanya terkenal akan puisi-puisinya yang menggambarkan kealamian pemandangan, Gao Shi dan Cen Shen yang kebanyakan puisi-puisinya tentang keterbatasan dalam hidup, “Penyair konfusius” Wang Changling (698–765), dan seterusnya. Pada tahun-tahun berikutnya, penyair Bai Juyi (772–846) mewakili banyak penyair di era tengah hingga akhir Dinasti Tang. Puisi-puisi mereka mengandung makna yang dalam, mengesankan dan berjangkauan luas. Mereka melebihi penyair yang biasanya dan melambangkan semangat Dinasti Tang.

Dalam penambahan seni membuat puisi, gaya sastra Tang dan cerita tentang keajaiban juga meraih tingkatan artistik yang sangat tinggi. Para sarjana Dinasti Tang menuliskan tentang kehidupan penduduk sipil dan mengungkapkan sisi gelap yang ada di dalam masyarakat, dan menunjukkan ketajaman di dalamnya, keberanian, rasa tanggung jawab, pandangan ke masa depan yang luar biasa dan cara pandang yang luas. Di antara garis yang ada kita dapat memahami keinginan mereka “menyelamatkan banyak orang, dan memelihara perdamaian dan kemakmuran masyarakat”.


Kaligrafi dan lukisan

Taizong menaruh perhatian besar pada seni kaligrafi. Ia mendirikan Istana Hongwen dan menunjuk para pelukis kaligrafi terkenal untuk mengajarkan para pelajar. Ia memberikan perintah bagi semua pejabat yang pangkat kedudukannya di atas tingkat kelima harus pergi ke Istana Hongwen untuk mempelajari seni kaligrafi. Taizong mengagumi seni kaligrafi dari Wang Xizhi (303–361), seorang diantara pelukis kaligrafi yang terkenal, sebagai “sempurna dalam kenaikan dan seni” dan diakui sebagai gaya kaligrafi Wang.

Di bawah pengaruh Taizong, kaisar-kaisar selanjutnya seperti Gaozong dan Zhongzong juga dicintai dan diakui sebagai pelukis kaligrafi yang baik. Hasilnya, kaligrafi nencapai puncaknya selama era Dinasti Tang. Dinasti Tang juga menghasilkan pelukis kaligrafi terbanyak di antara seluruh dinasti. Ouyang Xun, Yu Shinan, Yan Zhenqing, dan Liu Gongquan adalah diantaranya. Kaligrafi mereka masih berfungsi sebagai contoh terbaik bagi pecinta kaligrafi.

Perputaran lukisan sangat aktif selama Dinasti Tang, dan cakupan subyeknya lebih luas dibandingkan era sebelumnya.

“Gambaran Sebenarnya Taizong” dan “Dua puluh empat pejabat luar biasa” oleh pelukis Yan Liben (600-673) terlihat realistis dan dengan jelas mewakili gambaran dan ekspresi Taizong dan para pejabatnya. Oleh karena itu Yan dinyatakan sebagai dewa pelukis.

Pelukis lain, Wu Daozi (680-740), membuat lukisan dinding lebih dari 400 penganut Buddha dan Tao dalam kuil di Chang’an dan Luoyang. Masing-masing gambar pengikut Buddha dan Tao; selain itu, lukisannya sepenuhnya menggambarkan keagungan Buddha dan Dewa, dan kemegahan surga. Ia mampu menyelesaikan sebuah lukisan dengan satu goresan kuas, dan lukisannya dengan cepat membuat penduduk kota Chang’an terpesona.

Generasi selanjutnya memujanya sebagai “Pelukis Suci” dan menggambarkan lukisannya sebagai berikut: “Lambaian kuas seperti pusaran angin, seperti dewa tengah membantunya. “Para Pelukis dan seniman pahat menganugerahinya sebagai “Master Pelukis Ulung.”

Dinasti Tang, Puncak Kejayaan China 2

Dinasti Tang dianggap sebagai era keemasan dalam sejarah China, masa dimana China menjadi bangsa yang terbesar dan terkuat di dunia. Puncak kejayaan Dinasti Tang merujuk pada masa antara pemerintahan Kaisar Taizong dan Xuanzong. Selama periode ini, China menganut sebuah sistem politik etis dan berkembang pesat di semua aspek termasuk perdagangan, sosial, budaya, dan kesenian.”

Sutra Intan, sebuah gambaran Buddha dicetak pada tahun 868. Menjadi  buku cetakan pertama yang dikenal luas di dunia. (PUBLIC DOMAIN)

Sutra Intan, sebuah gambaran Buddha dicetak pada tahun 868. Menjadi buku cetakan pertama yang dikenal luas di dunia.


Musik dan Tarian

Tarian dan musik zaman Dinasti Tang menampilkan gerakan terbaik dari generasi sebelumnya, dan mengadopsi saripati kebudayaan dari banyak bangsa minoritas maupun bangsa di Barat. Musik dan tarian pada periode ini adalah gambaran sejati dari sebuah masyarakat yang damai dan makmur dengan kemajemukan ratusan bangsa dalam keharmonisan yang sempurna.

Musik dan tarian Dinasti Tang sangat luar biasa dan mewah. Puisi dan prosanya tersusun ke dalam lagu-lagu dan syair pujian. Alat musiknya bermacam-macam, termasuk di dalamnya kecapi, harpa China dan drum.

Tariannya sangat anggun dan halus. Busananya kaya warna dan gaya. Di antara musik dan tarian Dinasti Tang ada “Musik Qingshang”, yang termasuk di dalam musik tradisional dari sejak zaman Dinasti Han dahulu. Terdapat pula “musik daratan Barat Laut” dan “musik Goryeo”, yang dinamakan serupa tempat mereka berasal.

Potongan asli yang tersusun lengkap selama Dinasti Tang adalah sebuah kombinasi antara musik, tarian dan puisi, seringkali dalam bentuk skala besar mewakili multi golongan.

Salah satu hasil karya paling terkenal yang pernah dibuat selama Dinasti Tang adalah “Li Shimin menaklukan Wuzhou”, yakni sebuah pertunjukan megah musik dan tarian yang menggambarkan dan mengagungkan keluhuran budi Taizong dalam mengalahkan seorang musuh yang keji, menyatukan bangsa dan membawa perdamaian bagi rakyat. Musiknya sangat populer, bahkan secara luas dikenal hingga ke negara lain di luar China.

Ideologi dan kepercayaan

Dinasti Tang adalah sebuah periode ketika era Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme terus berkembang ke puncak kepopuleran mereka. Mengajarkan tiga ajaran ini membantu mengatur perilaku masyarakat dan menyebar ke seluruh aspek masyarakat. Sebagai hasilnya, seluruh masyarakat mampu mempertahankan sebuah standar moral yang tinggi.

Taizong tidak hanya menghormati aliran Konfusianisme namun juga mendukung Taoisme dan Buddhisme. Selama era Dinasti Tang, terdapat sebuah sistem pemujaan yang lengkap kepada langit dan bumi serta para Dewa. Orang menghargai surga dan percaya akan Tuhan. Para cendikiawan menghormati Taoisme dan menjunjung sikap pemimpin berbudi luhur, bertanggung jawab terhadap kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Konfusianisme mengajarkan “seorang yang bajik mencintai sesama”. Aliran Taoisme mengajarkan, “penerangan Tao dan kebenaran”. Aliran Buddha mengajarkan “keselamatan dengan belas kasih”. Masyarakat pada zaman itu gigih berusaha mencari kebenaran dan dengan teguh memelihara hati yang luhur.

Taizong memerintahkan agar beberapa cendikiawan menyusun buku “Lima Keklasikan Konfusianisme”, yang menjadi standar buku pelajaran bagi siswa yang akan mengikuti ujian kerajaan. Demikian pula meninggalkan standar buku pelajaran untuk generasi berikutnya.

Dalam kesenian yang murni, terdapat pembelajaran yang didedikasikan kepada tokoh aliran Tao dan Buddha. Para musisi menyusun potongan-potongan musik Tao yang agung.

Dalam ilmu pengetahuan, seorang dokter pengobatan China terkenal, dokter Sun Simiao, penganut Taoisme yang mendedikasikan hidupnya untuk berkultivasi Tao dan menyediakan pelayanan pengobatan bagi masyarakat. Generasi selanjutnya menganugerahinya sebagai “Putra Matahari Sejati Tao” dan “Raja Pengobatan”.

Ajaran Buddha juga secara luas dipromosikan. Sejumlah besar kitab Buddha diterjemahkan dan disebarkan pada waktu itu. Orang mempercayai dharma-dharma dalam agama Buddha, dan hubungan sebab akibat karma. Mereka mengultivasi hati dan berusaha keras agar untuk menjadi lebih belas kasih.

Biksu pandai, Xuanzang, dengan hati belas kasih memutuskan pergi ke India untuk mencari beberapa kitab Buddha. Ia menghabiskan 17 tahun perjalanan jauh dan penuh rintangan ke India, dan kembali dengan membawa 657 kitab. Setelah kepulangannya, ia menerjemahkan semua kitab ke dalam bahasa Mandarin di Kuil Ci’en di Chang’an.

Taizong sangat menyambut prestasi rahib dan memberinya dorongan yang luar biasa. Selain itu, Taizong secara pribadi menuliskan beberapa kalimat prakata untuk koleksi Xuanzang. Dimulai dengan penjelasan bumi dan langit, yin dan yang, transformasi empat musim, nampak dan tak nampak, makrokopis dan mikrokopis, lalu transisi ajaran Buddha dan pujian luar biasa atas pencarian kitab Buddha. Prakata penuh dengan keagungan di setiap momentumnya, anggun dalam gaya kesusastraannya.

Pertukaran Budaya

Pemerintahan Zheng Guan sangat dikagumi oleh negara tetangga. Lebih dari 300 negara dan suku secara teratur mengirimkan utusan doplomatiknya ke China. Oleh karena itu istana kerajaan Tang mendirikan banyak organisasi untuk menyambut pengunjung asing dan menjaga hubungan baik bilateral. Banyak negara di Asia dan Afrika mengirimkan utusannya ke China. Negara lain mengadopsi banyak kebijakan dari Dinasti Tang. Di antara yang pergi ke ibu kota Chang’an, untuk mempelajari budaya Tang adalah anggota keluarga kerajaan, utusan, pelajar, seniman dan biksu. Chang’an menjadi ibu kota terbesar di dunia pada saat itu.

Guozijian (Pusat Akademi Feodal China) adalah akademi yang paling diakui di dunia. Jepang sendiri mengirimkan 19 grup utusan ke China, dengan total lebih dari 5.000, yang disebut sebagai Duta Tang Jepang. Para pelajar dari luar negeri mengakui institusi pendidikan tertinggi Tang, Guozjian.

Setelah beberapa tahun menuntut ilmu, para pelajar diizinkan menetap dan bekerja pada instansi pemerintahan China atau kembali ke negara asal mereka untuk menyebarkan budaya Han di negara mereka. Para biksu dari negara lain menetap dalam kuil dan berusaha tekun mempelajari kitab agama Buddha.

Beberapa negara mengundang para ahli China untuk mengajar di negara mereka. Sebagai contoh, biksu Jianzhen pergi ke Jepang sebanyak enam kali, membawa patung Buddha dan kitab agama Buddha ke Jepang dan menyebarkan Buddha Dharma beserta kebudayaan Tang di Jepang. Dengan demikian Ia telah membuat kontribusi yang besar kepada pertukaran budaya antara Jepang dan China.

Kebudayaan Tang memiliki prestasi gemilang yang akan terus bersinar di peradaban masyarakat China. Juga menjadi sebuah harta karun bagi seluruh dunia dengan makna yang dalam dan pengaruh luar biasa pada negara tetangga. Akan selalu meninggalkan kebanggaan dan kemuliaan bagi rakyat China. Kemakmuran, kerajaan yang bagaikan surga dan ketulusan Taizong, kebajikannya serta kelapangan hatinya, tidak akan terlupakan dari ingatan. (Zhi Zhen/The Epoch Times/mer)

Asal Mula Kebudayaan Olmec

Terdapat sebuah kebudayaan kuno yang berkembang di daerah Mesoamerica sekitar tahun 1.100 Sebelum Masehi, yang masih menjadi suatu misteri bagi para ahli sejarah, yaitu Kebudayaan Olmec yang misterius.

Patung kepala suku Olmec. (ADALBERTO RIOS SZALAY/SEXTO SOL/GETTY  IMAGES)
Patung kepala suku Olmec. (ADALBERTO RIOS SZALAY/SEXTO SOL/GETTY IMAGES)

Ritual religius mereka sangat tidak bisa dipahami, begitu pula asal mula keberadaan mereka. Namun bagaimana kebudayaan yang sepertinya muncul tiba-tiba itu dapat berkembang dan memiliki pengaruh yang luar biasa di seluruh daerah itu?

Menurut beberapa penulis, termasuk Mike Xu, profesor bidang studi Tiongkok di University of Central Oklahoma, Olmec adalah keturunan dari bangsa Tionghoa kuno. Buktinya adalah kebudayaan Olmec dimulai pada sekitar tahun 1.100 Sebelum Masehi, beberapa tahun setelah jatuhnya dinasti Shang Tiongkok (1.766 - 1.122 Sebelum Masehi).

Berdasarkan sejarah kuno pada masa itu, ketika dinasti Zhou mulai menyerbu dan menjatuhkan dinasti Shang, sebuah catatan menyebutkan bahwa putra kaisar membawa sekitar 25.000 orang ahli menuju “lautan timur”. Menurut Mike Xu, ini adalah masyarakat Olmec yang pertama.

Sesuai dengan sejarah, pada waktu itu angkatan laut Tiongkok merupakan yang paling maju pada eranya.

Beberapa ahli sejarah mengemukakan bahwa musafir Tiongkok ini dapat berlayar hingga ke pesisir Amerika berkat bantuan “arus hitam”. Dikenal dengan nama Kuro Shiwo atau “arus kematian” dalam bahasa Jepang, arus di Lautan Pasifik ini sanggup membantu navigasi dari pelaut Tiongkok kuno ke daratan Amerika. Dalam artikelnya di majalah pelayaran 48 Degrees North, ”Apakah kita hidup di Tanah Fusang?” Hewitt R. Jackson menulis bahwa ada bukti kemiripan tentang pelaut pra-Kolombia Tiongkok yang telah dikonfirmasi :

“Mungkin laporan dokumentasi terbaik yang telah dapat dipelajari adalah dari catatan Hwui Chan (Hoei Shin). Dia adalah seorang “cha-men” atau seorang biksu musafir yang telah berkelana dari Afganistan sebagai misionaris agama Budha pertama menuju Tiongkok. Ini adalah sebuah periode penyebaran agama Budha secara besar-besaran dan perjalanan luar biasa melalui daratan dan lautan, suatu hal yang biasa dilakukan oleh “cha-men”. Hwui Chan berlayar ke Amerika sekitar 500 tahun sebelum Leif Erickson dan seribu tahun sebelum Columbus. Deskripsinya tentang daratan yang dikunjungi mengindikasikan bahwa dia telah melewati Kalifornia dan menetap di Meksiko. Setelah tinggal di sana selama 40 tahun, dia kembali ke Tiongkok pada 499 Masehi dan kemudian menceritakan tentang perjalanan dan pengalamannya ke Kaisar Wu Ti. Cerita tentang Fusang sangat terkenal pada masa itu di Tiongkok. Hal ini akhirnya diakui dan diterima oleh kaum cendikiawan barat, tetapi untuk beberapa alasan cerita ini ditinggalkan dalam sejarah dan literatur kita pada beberapa abad terakhir.”

Arus hitam dapat menjelaskan tentang perjalanannya, dan benda-benda kuno peninggalan Olmec dapat menjelaskan lebih lanjut tentang teori yang ada. Dari tulisan yang ditemukan pada kendi, barang-barang tanah liat dan patung dapat dilihat pengaruh nyata kebudayaan Tiongkok.

Profesor Xu menunjukkan bahwa bermacam-macam kata yang ditemukan pada benda dekorasi persis sama dengan yang dipakai pada masa dinasti Shang di Tiongkok: Matahari, Gunung, Seni, Air, Hujan, Pengorbanan, Kesehatan, Tumbuhan, Kekayaan, dan Bumi. Selain itu, sebagian besar dari 146 karakter yang dipakai oleh bangsa Olmec persis sama dengan tulisan Tiongkok primitif. Ketika Xu menunjukkan benda-benda kuno peninggalan Olmec kepada mahasiswa yang melakukan analisa kebudayaan Tiongkok kuno, mereka bahkan percaya bahwa itu adalah tulisan Tiongkok kuno.

Meskipun sebagian besar cendikiawan Mesoamerican menolak teori Xu — sehingga kemudian dia diberi label “orang paling berbahaya dalam penelitian Mesoamerican” — tetapi teori Xu setidaknya dapat memberikan secercah cahaya tentang kebudayaan misterius Olmec dibanding teori lain yang telah diterima tetapi tidak dapat menerangkan dengan baik.

Dalam suratnya kepada Science Magazine tahun 2005, Betty J. Meggers dari National Museum of Natural History di Smithsonian Institution mengkritik sebagian besar cendekiawan Mesoamerican yang tidak bisa menerima perbandingan disampaikan oleh Xu: “Penemuan tulisan merevolusi masyarakat Tiongkok dengan memfasilitasi komunikasi antar 60 bahasa yang tidak dapat dipahami satu sama lain serta memberikan hasil peningkatan interaksi komersial dan integrasi sosial. Penyebaran yang cepat dari ikonografi (tulisan simbol) Olmec dan penjelasan asosiasi kebudayaan menjelaskan bahwa hal yang sama terjadi pada seluruh Mesoamerica yang multi bahasa.

Runtuhnya Kekaisaran Dinasti Shang sekitar tahun 1.500 Sebelum Masehi bertepatan dengan munculnya peradaban Olmec. Daripada berspekulasi pada kekosongan karakter Olmec yang belum dapat ditemukan, kelihatannya lebih memberikan hasil untuk membandingkan sisa-sisa peninggalan purbakala dengan catatan detail tentang dampak dari tulisan dalam perkembangan peradaban Tiongkok. Tidak ada ruginya bukan?”

Sabtu, 17 Juli 2010

Keluasan Hati

Laut luas mengetahui bahwa menampung aliran sungai bukan hanya  merupakan kebutuhannya sendiri melainkan semua kehidupan di laut bahkan  kebutuhan dunia ini. (GETTY IMAGES)

Di China kuno beredar kisah mitologi demikian: Zaman China kuno terdapat sebuah sungai besar. Dewa yang menjaga sungai itu bernama He Bo. Pada suatu hari air sungai besar itu penuh, gelombang dahsyat bergelora. He Bo memandangi permukaan air sungai yang luas dengan perasaan bangga sambil berpikir: “Di dunia ini masih adakah yang mampu menampung lebih banyak air daripada saya?”

Dia memandangi sungai kecil di sekeliling dan merendahkannya. He Bo memutuskan untuk berwisata ke berbagai tempat di sepanjang sungai, sambil memamerkan dirinya kepada mata air dan sungai kecil di sepanjang jalan yang ditemuinya.

Pada suatu hari He Bo tiba di Laut China Timur, ketika He Bo melihat laut luas tiada bertepi, melihat pemandangan yang seolah-olah menggapai langit dia merasa sangat tergoncang. He Bo berkata dengan sayu kepada Dewa Laut China Timur: “Semula saya pikir diri saya sangat hebat, hari ini berjumpa dengan Anda saya baru menyadari bahwa diri saya sangatlah kecil tak berarti.”

Dewa Laut China Timur, dengan hormat berkata: “Kakak He Bo terlalu memuji, bukankah karena Kakak He Bo dan para dewa sungai serta para dewa anak sungai tidak membenci dan menjauhiku barulah daku dapat menjadi sebesar hari ini?”

Teringat ketika saya pertama kali membaca cerita ini, saya hanya berpikir: He Bo benar-benar tidak tahu diri, tapi kemudian dengan cepat melupakannya. Saat itu saya belum dengan sungguh-sungguh menghargai arti sebenarnya cerita tersebut.

Di kemudian hari saya berangsur-angsur menemukan bahwa dalam kenyataan hidup terdapat banyak orang yang seperti He Bo, bahkan diri saya sendiri sering kali juga tanpa sadar telah menjadi He Bo.

Terkadang kita membanggakan kemampuan diri sendiri atau menjadi angkuh. Ketika berbicara terkadang dengan sadar atau tanpa sadar merasa “pintar” atau timbul rasa tidak suka ketika kecakapan kita tidak mendapat pengakuan dan penghargaan dari orang lain.

Sesungguhnya tanpa terasa kita telah terperangkap dalam jebakan yang dibuat oleh “kecakapan” diri kita sendiri, dalam perangkap tersebut kita meronta-ronta dengan susah payah namun sulit melepaskan diri.

“Apakah kita yang seperti ini dapat dianggap orang yang benar-benar cakap dan arif?” Lantas saya bertanya pada diri sendiri, “Jika kita benar-benar orang yang arif, lalu mengapa membiarkan diri kita terperangkap ke dalam situasi tanpa harapan?"

Dengan sepenuh hati saya memikirkannya, sampai pada suatu hari dalam berkultivasi Dafa atas petunjuk Guru, saya seperti memperoleh pencerahan. Ketika itu dengan takjub saya menemukan bahwa sebenarnya sebuah pintu besar telah lama terbuka dengan diam-diam di depan kita, hanya saja terserah kita apakah mau memasukinya atau tidak. Pada saat kita memasuki pintu ini barulah akan menemukan bahwa di balik pintu tersebut merupakan bentangan alam yang maha luas.

Tidak tahu apakah ketika Anda membaca cerita di atas, pernahkah memikirkan mengapa Dewa Laut China Timur begitu rendah hati? Dia jelas-jelas memiliki wilayah perairan tanpa tepi. Apakah laut luas tidak melihat keluasannya sendiri?

Saya rasa tentu saja tidak demikian, lebih tepatnya dikatakan: justru karena laut luas memiliki kearifan yang lebih tinggi, maka menjadi lebih rendah hati. Seperti halnya He Bo, jika dia selamanya tetap tinggal di satu tempat, maka dia mungkin selamanya akan berpikir bahwa dialah yang memiliki wilayah air terbesar.

Ini bukanlah karena He Bo bodoh, tapi karena pikirannya ha-nya dibatasi pada ruang lingkup yang kecil, kearifannya telah dipasung sendiri di dalam lingkup seperti itu, oleh karenanya keliru mengira dia paling luar biasa.

Laut luas karena kearifannya lebih besar sehingga pemikirannya pun lebih luas. Dia mengetahui bahwa di dalam alam semesta ini selain dirinya masih terdapat banyak sekali kehidupan yang arif. Dia tahu bahwa setiap kehidupan memiliki karakteristiknya sendiri, sebaliknya hanya mengandalkan salah satu kehidupan tidak dapat membuat alam semesta ini mencapai kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan dalam alam semesta yang maha luas dirinya hanyalah sebuah partikel kecil.

Justru karena laut luas memiliki kearifan yang tinggi, barulah dapat membuatnya “lebih rendah hati”. Membuatnya lebih banyak melihat kekurangan diri sendiri, dengan meningkatnya kearifan juga telah membuatnya memiliki “kapasitas kemampuan” yang lebih besar.

Laut luas mengetahui, meski dirinya luas sekali, namun jika telah meninggalkan pasokan air dari berbagai sungai dan anak sungai lain, secara berangsur-angsur juga akan mengering. Meski sungai berbeda membawa materi yang berbeda ke laut, namun laut tak pernah menutup pintu bagi mereka.

Karena laut tahu bahwa mengakomodasi mereka bukan hanya merupakan kebutuhan mereka sendiri, namun kebutuhan dari semua kehidupan dalam laut, bahkan merupakan kebutuhan dunia ini. Laut tidak takut diri mereka mengering, tetapi rela menyerahkan dirinya untuk dunia ini.

Laut luas juga mengetahui meski dia memiliki kemampuan luar biasa, dan bahkan dapat menyapu daratan, menggenangi semuanya, namun dirinya tidak dapat menumbuhkan tanaman darat, juga tidak dapat membuat kehidupan darat beraktivitas secara leluasa dalam dirinya.

Laut luas tahu bahwa jika ingin membuat dunia ini makmur dan penuh vitalitas tidak akan dicapai hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Laut luas tahu pada hakekatnya dia bukanlah rendah hati, melainkan hanya memahami lebih mendalam diri sendiri dan dunia ini.

Ketika melihat orang-orang menyombongkan diri, laut luas sering kali menghela napas: mereka hanya dapat melihat keuntungan dan kerugian diri sendiri, tetapi tidak dapat melihat kebutuhan orang lain. Mereka mengerti bagaimana menuntut, tetapi tidak mengerti bahwa ketika tidak ada persembahan, maka tidak ada yang bisa dituntut. Mereka ingin orang lain mengerti diri mereka, “memperhatikan” perasaan mereka, namun tidak mengetahui bahwa orang lain juga mengharapkan pengertian dan pengakuan darinya.

Laut luas berpikir: andaikan semua orang dapat mengesampingkan “diriku” dalam pikiran mereka, maka semua orang akan dapat memiliki kearifan yang lebih luas. Jika semua orang menganggap kebutuhan dunia dan kebutuhan alam semesta ini sebagai tanggung jawab mereka sendiri, maka dunia dan alam semesta ini pastilah akan lebih indah dan makmur. “Diriku” yang menjadi bagian darinya juga tentu akan lebih berbahagia.

Jika semua orang bisa terlebih dahulu memikirkan orang lain dan memenuhi kebutuhan orang lain, maka kebutuhan mereka juga akan dipenuhi oleh orang lain.

Dari kisah ini saya memahami berbagai macam prinsip. Saya pikir jika kita dapat berlaku seperti laut luas yang memiliki “hati” lebih luas dalam mengakomodasi orang lain, masihkan kita perlu mengkhawatirkan bahwa “aliran sungai kecil” kita tidak akan menjadi “lautan maha luas”?

Postingan Populer